Senin, 23 Januari 2023

BATIK MERAH


BATIK MERAH

Oleh: Mohamad Johan

Hanum memasuki ruangan dengan sedikit tergesa. Teman-temannya sudah hadir semua. Hanya ada satu tempat tersisa. Di pojok belakang sebelah kanan. Ke sanalah Hanum menuju. Hari ini praktik membatik. Kegiatan ekstrakurikuler di sekolah Hanum. Guru pembimbing belum hadir. Hanum ada kesempatan untuk mengecek peralatan membatiknya. Kain mori, zat pewarna, malam, canting, wajan, kompor, dan gawangan. Semua lengkap. Ia segera mengambil dingklik dan duduk di atasnya. Bersamaan dengan masuknya guru pembimbing ke dalam ruangan. Setelah tiga bulan belajar teori, sekarang waktunya Hanum mempraktikkan pengetahuannya.

Hanum membentangkan kain mori pada gawangan. Menyalakan kompor dan meletakkan wajan di atasnya. Dia tuangkan malam dan zat pewarna alami ke dalam wajan. Tak lama kemudian terlihat gelembung-gelembung keluar dari bahan campuran tersebut. Anak-anak, hari ini kita akan menggambar batik Sonar Are. Sebagaimana motif yang kita pelajari selama ini. Apakah ada pertanyaan? Suara guru depan kelas memberikan petunjuk. Oh, iya warna dasar batik yang kalian kerjakan ini nanti merah ya. Sang guru melanjutkan. Hanum tersedak. Warna merah paling tidak ia suka. Warna darah. Ia tak kuasa melihat darah yang berwarna merah. Ia pun tak suka warna merah walau bukan darah. Hanum acungkan tangan. Meminta kebijakan pada gurunya untuk membuat batik dengan warna dasar lain. Permintaan Hanum ditolak sang guru. Dia tetap dengan keputusan awal. Teman-teman Hanum tak ada yang berkomentar. Entah setuju entah takut.

Hanum kukuh dengan keinginannya. Dia menggambar batik dengan motif dasar warna hijau. Pun setelah gurunya menegurnya. Hanum tetap tak berubah pendirian. Praktik membatik itu ruang ekspresi jiwanya. Ia butuh kebebasan agar batik yang ia buat sesuai dengan seleranya. Setelah sekian lama membatik, Hanum butuh ke belakang. Perutnya melilit. Setelah kembali, ruangan itu telah kosong. Hanum menuju ke tempat semula. Mata Hanum terbelalak. Batik sederhana yang hampir selesai dia buat berubah warna. Menjadi batik berwarna merah. Bahkan dari ujung-ujung kain batik itu menetes darah.

Sumenep, 17/01/2023 

0 komentar:

Posting Komentar