BATIK MERAH
Oleh: Mohamad Johan
Hanum
membentangkan kain mori pada gawangan. Menyalakan kompor dan meletakkan wajan
di atasnya. Dia tuangkan malam dan zat pewarna alami ke dalam wajan. Tak lama
kemudian terlihat gelembung-gelembung keluar dari bahan campuran tersebut.
Anak-anak, hari ini kita akan menggambar batik Sonar Are. Sebagaimana motif
yang kita pelajari selama ini. Apakah ada pertanyaan? Suara guru depan kelas
memberikan petunjuk. Oh, iya warna dasar batik yang kalian kerjakan ini nanti
merah ya. Sang guru melanjutkan. Hanum tersedak. Warna merah paling tidak ia
suka. Warna darah. Ia tak kuasa melihat darah yang berwarna merah. Ia pun tak
suka warna merah walau bukan darah. Hanum acungkan tangan. Meminta kebijakan
pada gurunya untuk membuat batik dengan warna dasar lain. Permintaan Hanum
ditolak sang guru. Dia tetap dengan keputusan awal. Teman-teman Hanum tak ada
yang berkomentar. Entah setuju entah takut.
Hanum kukuh
dengan keinginannya. Dia menggambar batik dengan motif dasar warna hijau. Pun
setelah gurunya menegurnya. Hanum tetap tak berubah pendirian. Praktik membatik
itu ruang ekspresi jiwanya. Ia butuh kebebasan agar batik yang ia buat sesuai
dengan seleranya. Setelah sekian lama membatik, Hanum butuh ke belakang.
Perutnya melilit. Setelah kembali, ruangan itu telah kosong. Hanum menuju ke
tempat semula. Mata Hanum terbelalak. Batik sederhana yang hampir selesai dia
buat berubah warna. Menjadi batik berwarna merah. Bahkan dari ujung-ujung kain
batik itu menetes darah.
Sumenep, 17/01/2023

0 komentar:
Posting Komentar