Rabu, 25 Januari 2023

Bencana Dan Hikmah

 

                                        BENCANA DAN HIKMAH

Oleh: Mohamad Johan


Bangsa-bangsa lain telah lama mengakui keindahan pulau-pulau Indonesia, sehigga mereka menyebut negara kita dengan Untaian Zamrud Khatulistiwa, sudah lama pula bangsa-bangsa itu menyadari kekayaan yang dikandung ‘perut-perut’ pulau-pulau itu maupun yang ada di ‘wajahnya’ sehingga mereka datang untuk menjajahnya, tetapi ketika penjajahan dengan segala bentuknya harus dihapuskan dari seluruh dunia, maka merekapun datang sebagai wisatawan tuk menikmati keindahan panorama pulau-pulau itu dan keramahtamahan penduduknya .

            Tetapi negeri yang mempesona lewat lambaian pohon nyiurnya ini telah sejak dua tahun terakhir ini porak poranda oleh bencana yang datang silih berganti. Dari Sabang sampai Merauke tak luput dari hantaman bencana. Drama itu dimulai dari Aceh dengan gerusan gempa dan tsunaminya –bahkan disebut-sebut bencana itu merupakan yang terbesar dalam sejarah bangsa ini--  hingga gempa di Pangandaran Jawa Barat bulan kemarin, belum lagi lumpur panas yang menyembur dari sumur eksplorasi sebuah perusahaan eksplorasi migas di Sidoarjo Jawa Timur yang sampai saat ini masih terus terjadi, semuanya sambung menyambung membentuk penderitaan yang begitu panjang bagi bangsa ini dan kebingungan yang sumpek bagi pemerintah. Dana bencana tanggap darurat yang dianggarkan pemerintah selalu saja tidak mencukupi untuk menanggulangi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana yang menimpa, karena satu bencana belum selesai ditanggulangi datang lagi bencana yang lainnya.  Seakan benar apa yang dilantunkan Ebiet G. Adi dalam salah satu syair lagunya: Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang.

            Bencana demi bencana yang datang silih berganti mendera bangsa ini mau tidak mau mengharuskan kita untuk sejenak tafakkur dan mengheningkan cipta sejenak, memeras otak dan mengetuk hati nurani, kenapa bencana demi bencana itu datang dalam rentang waktu yang begitu berdekatan. Banyak analisis ilmiah yang serba ‘akali’ –bahkan yang serba ruwet--  telah diajukan dalam rangka mencoba memotret dan mencari jawab dari semua pertanyaan-pertanyaan itu. Semua pernyataan itu tak pernah pasti jawabannya, yang pasti hanyalah kenyataan bahwa bencana itu tetap saja datang beruntaian.

            Mungkin kini saatnya kita mencari jawab dari perspektif spiritual tentang kenapa semua bencana ini bisa terjadi. Lalu bagaimanakah penjelasan spiritual yang dapat kita berikan terhadap semua ini?  Kiranya sangat tepat bahwa jawaban ini bertolak dari sebuah postulat yang terdapat dalam al-quran bahwa tidak ada satupun bencana yang ditimpakan pada umat manusia kecuali manusia itu sendiri yang menjadi penyebabnya. Marilah kita renungi apa yang dikatakan Jalaluddin Rahmat dalam bukunya Reformasi Sufistik ketika menjelaskan mengapa sebuah bencana dapat ditimpakan Allah pada sebuah kaum atau bangsa.

            Kang Jalal menulis begini: jangan-jangan langit kelabu yang menimpa kita tahun-tahun belakangan ini terjadi karena seluruh bangasa ini telah mejadi keluarga besar Fir’aun. Jangan-jangan pemegang kekuasaan diantara kita telah menjadi fir’aun-fir’aun kecil, yang menggunakan kekusaan untuk memeras yang lemah, menindas yang rendah, dan merampas hak orang yang tidak berdaya.

            Jangan-jangan orang-orang  berduit kita telah menjadi  Qarun, yang rakus mengumpulkan dunia dengan tidak peduli halal dan haram. Demi duit kita tidak ragu-ragu menghantam, menyakiti, bahkan membunuh sesama saudara kita. Kita sudah menjadi binatang-binatang buas. Zamrud khatulistiwa telah kita ubah menjadi rimba raya yang menakutkan.

            Jangan-jangan para cerdik pandai kita telah menjadi Haman, yang mempersembahkan kecerdasannya untuk mengabdi pada kezaliman. Kecerdikan kita pergunakan untuk meliciki orang banyak. Kepantaran kita manfaatkan untuk me-minter-i orang-orang bodoh.

            Jangan-jangan para ulama kita telah menjadi Bal’am bin Ba’ura. Kita menjual ayat-ayat untuk memenuhi hawa nafsu kita. Kita mengemas ambisi duniawi dengan ritus-ritus kesalihan. Seharusnya kita melangkahkan kaki ke gubuk-gubuk orang miskin dan mengetuk pintu mereka untuk memberikan bantuan kita. Tetapi kini kita mengayunkan langkah ke istana para penguasa, menundukkan kepala kita di hadapan mereka, seraya menggumamkan ayat-ayat Allah untuk membenarkan kezaliman mereka.

            Jangan-jangan kita semua sudah tidak peduli lagi dengan perintah Tuhan. Kita sudah menjadi budak-budak dunia. Di masjid kita membesarkan nama-Nya. Di luar masjid kita menyepelekan Dia. Di masjid, kita pergunakan seluruh anggota badan kita untuk bersujud kepada Allah, di luar masjid kita menggunakannya untuk bermaksiat kepada Dia. Tangan-tangan yang kita angkat dalam doa kita juga tangan-tangan yang bergelimang dosa. Demikian juga degan anggota tubuh kita yang lain.

            Marilah kita sekarang menyudahi dan merubah bencana yang kita alami menjadi nikmat lagi dengan mengubah prilaku kita, ke arah yang lebih baik tinggalkanlah arogansi Fir’aun, kerakusan Qarun, kelicikan Haman, dan kemunafikan Bal’am, karena hanya dengan demikianlah kita akan dapat temukan kemilau hikmah dibalik tumpukan bencana yang mengurung kita dan maksud utama Allah menimpakan bencana kepada kita akan temukan momentumnya, yakni agar kita berubah, agar kita dapat hijrah dari kezaliman pada keadilan, dari kekafiran pada keimanan dan dari penderitaan pada kesejahteraan. Semoga.

0 komentar:

Posting Komentar