Oleh: Mohamad Johan
Santriwati
bernama Elena itu merangkak lalu bersimpuh. Menghadap kiai. Di sebuah ruang
khusus. Dekat masjid pesantren. Mereka hanya berdua. Waktu telah larut. Kiai
memintanya untuk lebih maju. Elena terus beringsut dengan ketakziman yang
tinggi. Wajah tertunduk. Tak berani manatap wajah kiai. Hingga ia berjarak sekira
setengah meter dengan orang yang sangat dihormatinya tersebut. Kiai menatap Elena
dengan lekat lalu tersenyum. Tampak seperti seringai serigala menemukan mangsa.
Sejurus kemudian meluncurlah nasehat. Bahwa santri itu harus taat dan patuh
pada kiai. Harus bisa memenuhi segala permintaan kiai. Nasehat demi nasehat
terus datang bergelombang dari bibir kiai. Bibir itu semakin lama semakin
bergetar. Seperti menahan hasrat yang semakin muncrat. Kiai tiba-tiba
menghentikan nasehatnya. Hanya tangannya yang mulai bergerilnya. Memegang kaki Elena.
Elena tak bergerak. Mulutnya terkunci. Kepalanya tetap menunduk. Tangan kiai
itu terus ke atas. Memegang betis. Elena tetap diam seribu bahasa. Hanya
tubuhnya mulai menggigil. Tangan kiai itu terus ke atas. Lampu di ruangan itu
padam seketika. Gelap gulita.
Lengkingan
suara kiai yang mengerang kesakitan mengagetkan seluruh penghuni pesantren.
Terutama pengurus keamanan pondok yang memang belum tidur. Segera saja mereka
menyasar asal suara. Erangan itu
susul-menyusul. Tak berhenti. Pengurus keamanan kesulitan memasuki ruangan.
Pintu di kunci dari dalam. Suara kiai yang terus mengaduh kesakitan membuat
pengurus blingsatan. Pintu pun didobrak. Begitu lampu dinyalakan. Terlihat
darah segar mengalir dari selangkangan kiai. Di pojok tenggara, santriwati itu
berdiri dengan pandangan nanar. Tangannya memegang pisau berlumur darah.

0 komentar:
Posting Komentar