Senin, 23 Januari 2023

BURUNG SANG KYAI


 BURUNG SANG KIAI

Oleh: Mohamad Johan

Usianya sekira lima puluh tahun. Uban di kepalanya tumbuh sana sini. Sehari-hari dia memakai pakaian kebesaran. Sarung, baju koko, kopiah putih. Tak lupa sorban melilit lehernya. Orang-orang memanggilnya kiai. Walaupun bukan keturunan kiai. Dia berhasil membangun sebuah pesantren yang megah. Bermula dari keuletan membangun jaringan bisnis. Sebagian dari hasil bisnisnya itu digunakan untuk membangun pesantren. Di pinggir jalan raya provinsi. Pesantren itu hanya khusus untuk santri perempuan. Awalnya, dia menggratiskan biaya pendidikan di pesantrennya. Tapi lama-lama berbayar juga. Ketika animo masyarakat terhadap pesantrennya semakin tinggi. Sore itu, dia baru saja menyelesaikan kajian sebuah kitab. Pandangannya memperhatikan dengan seksama satu persatu santriwatinya. Mereka sedang berjalan dengan takzim menuju asrama.

Santriwati bernama Elena itu merangkak lalu bersimpuh. Menghadap kiai. Di sebuah ruang khusus. Dekat masjid pesantren. Mereka hanya berdua. Waktu telah larut. Kiai memintanya untuk lebih maju. Elena terus beringsut dengan ketakziman yang tinggi. Wajah tertunduk. Tak berani manatap wajah kiai. Hingga ia berjarak sekira setengah meter dengan orang yang sangat dihormatinya tersebut. Kiai menatap Elena dengan lekat lalu tersenyum. Tampak seperti seringai serigala menemukan mangsa. Sejurus kemudian meluncurlah nasehat. Bahwa santri itu harus taat dan patuh pada kiai. Harus bisa memenuhi segala permintaan kiai. Nasehat demi nasehat terus datang bergelombang dari bibir kiai. Bibir itu semakin lama semakin bergetar. Seperti menahan hasrat yang semakin muncrat. Kiai tiba-tiba menghentikan nasehatnya. Hanya tangannya yang mulai bergerilnya. Memegang kaki Elena. Elena tak bergerak. Mulutnya terkunci. Kepalanya tetap menunduk. Tangan kiai itu terus ke atas. Memegang betis. Elena tetap diam seribu bahasa. Hanya tubuhnya mulai menggigil. Tangan kiai itu terus ke atas. Lampu di ruangan itu padam seketika. Gelap gulita.

Lengkingan suara kiai yang mengerang kesakitan mengagetkan seluruh penghuni pesantren. Terutama pengurus keamanan pondok yang memang belum tidur. Segera saja mereka menyasar asal suara. Erangan  itu susul-menyusul. Tak berhenti. Pengurus keamanan kesulitan memasuki ruangan. Pintu di kunci dari dalam. Suara kiai yang terus mengaduh kesakitan membuat pengurus blingsatan. Pintu pun didobrak. Begitu lampu dinyalakan. Terlihat darah segar mengalir dari selangkangan kiai. Di pojok tenggara, santriwati itu berdiri dengan pandangan nanar. Tangannya memegang pisau berlumur darah.

Sumenep, 16/01/2023

0 komentar:

Posting Komentar