Senin, 23 Januari 2023

Embun Di Putik Kenanga


 Embun Di Putik Kenanga

Cerpen: Mohamad Johan

Dengan segera aku ambil handphone-ku begitu selesai sholat Dhuhur. Sudah beberapa hari ini aku kehilangan kontak dengan Adi, sahabat karibku waktu masih mondok di Pesantren Annuqayah Guluk-guluk Sumenep. Ia laksana saudara. Sehari-hari waktu di pondok senantiasa bersama. Makan, nimum, ngaji dan nyuci selalu bersama, selama enam tahun. Tapi semenjak dua bulan berhenti dari pesantren, aku sama sekali kehilangan kontak dengannya. Bertemu terakhir kali saat ia dipamitkan orang tuanya pada pengasuh.

            “Jadi kuliah di sini, Yan?” mata Adi berkaca-kaca saat hari terakhir perpisahan kami itu.

            “Ia.” Jawabku singkat tanpa mampu menatap matanya.

            Hening.

            “Kamu sendiri gimana, Di?”

Seluit senja mulai terlukis di ufuk barat disertai mendung yang bergelantungan, seperti wajah Adi saat ini.

            “Tahu sendiri kan kemampuan orang tuaku?” Adi mendesah, menghela nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan berat.

            “Tolong terima bantuanku ya?” Aku kembali mendesaknya. Sejak kemarin aku yakinkan pada Adi, asalkan punya keinginan untuk kuliah, aku bersedia mencarikan jalan keluar masalah biayanya.

“Hutang budiku padamu tak terbilang.” Adi membetulkan letak songkoknya yang sudah kemerah-merahan di makan usia itu hingga tegak lagi seperti semula. “Aku tidak ingin selalu menjadi beban bagi orang lain.”

Itulah yang tidak aku suka dari Adi. Terlalu perasa. Segala bantuan yang aku berikan selama ini selalu dihitung sebagai budi. Atau mungkin seperti itulah sikap orang-orang seperti Adi.

“Apakah aku orang lain bagimu?” Kucoba terus mendesaknya.

Adi terpekur. Ia memang selalu tak pernah menjawab setiap kali pertanyaan itu aku lontarkan. Aku juga sebenarnya tak perlu selalu menanyakan itu, karena perhatian, sikap dan doa Adi kepadaku bahkan telah seperti saudara.

Mulut kami lalu terkunci. Diam selaksa bahasa. Hanya pandangan yang kupaksakan menatap Adi yang matanya penuh bulir-bulir mengkristal. Ada ketidakrelaan untuk sebuah perpisahan. Tapi bukankah perpisahan memang milik orang-orang yang telah bertemu?

Dengan tetap bungkam, aku berikan bungkusan berisi handphone pada Adi yang memang kusiapkan begitu tahu Adi akan berhenti dari pesantren. Handphone yang selama ini aku pegang itu memang diingini Adi. Sementara aku kemarin telah dapat hadiah handphone baru dari ayah karena aku lulus dengan nilai terbaik di sekolah.

                                                *****

Layar handphone-ku tetap saja hanya menampilkan simbol operator seluler yang aku pakai. Tak ada panggilan tak terjawab maupun sebuah pesan diterima. Kemana kamu, Di. Tak biasanya kamu memutuskan komunikasi seperti ini. Bukankah kamu telah pegang handphone dan hafal betul dengan nomerku. Kenapa kamu tidak menghubungiku lebih dulu agar aku bisa tahu keadaan kamu?

Ada rasa sesal kenapa tidak sekalian kubelikan nomer perdana untuk Adi, sehingga jika dia tidak menghubungiku maka kubisa menghubunginya lebih dulu. Ah, penyesalan memang tak pernah datang di awal waktu.

Dua bulan tidak berjumpa dan berkomunikasi dengan Adi telah cukup membuatku merasa sangat kehilangan. Canda tawanya, keceriaannya dan terkadang kekonyolannya. Ia tak pernah marah dan selalu punya segudang maaf untuk setiap kesalahanku yang selalu terulang. Sebagai sahabat, Adi adalah sahabat terindah.

Ada juga kerinduan. Saat hari tak lagi penuh dengan senyum Adi. Tanpa sadar, ia selama ini telah menjadi keranjang sampah dari semua keluh kesahku, teman diskusi yang menyenangkan bahkan tempat pelampiasan kemarahanku. Di rumah aku anak tunggal sehingga tak pernah punya tempat untuk berbagi dengan orang yang sehati. Aku hanya menemukannya pada diri Adi. Sebagai saudara, Adi adalah saudara sejati.

                                                *****

 

Tetes embun masih perawan ketika aku meninggalkan gerbang pesantren. aku tak bisa lagi membiarkan rasa penasaran membunuhku. Hari ini aku bertekad ke rumah Adi. Aku harus tunjukkan perhatian padanya sebagaimana ia sangat perhatian padaku.

“Assalamu’alaikum.”

Rumah berdinding anyaman bambu itu tampak rapi dan bersih. Keasrian ternyata tidak hanya milik rumah mewah dan bertingkat.

Aku ulangi sekali salamku. Belum juga ada yang menyahut. Bila sama Adi biasanya aku langsung masuk ke kamarnya. Orang tuanya sudah menganggapku sebagai anak. Bercengkrama dengan mereka, menemukan keceriaan yang jujur dan kenestapaan yang asli.

Tapi sekarang kemana penghuni rumah yang agak reyot itu? Kenapa rumah yang biasa riang itu sekarang bungkam. Aku berbalik menuju penyabit rumput di seberang rumah Adi.

“Maaf Pak, numpang nanya.”

“Ia Nak, ada apa.” Penyabit rumput itu menoleh dengan senyuman tersembul di sudut bibirnya.

“Sampean lihat Adi, Pak? Saya temannya waktu di pesantren.”

“Semenjak beberapa hari yang lalu aku tak pernah lihat dia, biasanya selalu menyabit rumput di sini.” Raut wajah penyabit rumput itu berkerut.

“Kalau orang tuanya kira-kira kemana ya Pak?” Kejarku  lebih lanjut.

“Kalau jam segini biasanya lagi ke ladang atau lagi ‘berangkat1.”

                                                *****

Kuseret langkahku dengan enggan menjauh dari rumah yang nyaman tapi sedang hening tersebut. Adi seakan telah jadi orang sakti yang tak bisa ditemui sembarang orang atau orang penting yang sulit dijumpai karena selalu sibuk dengan urusan tugas dan urusan pribadi.

Kutoleh rumah yang tetap bisu itu sekali lagi. Aku harap Adi akan muncul  seraya menghambur mengejar atau paling tidak memanggil. Tapi yang aku dapati hanya seutas angin di ranting-ranting Kenanga yang banyak tumbuh di halaman rumah Adi.

“Dari mana Yan?”

Satu suara yang agaknya aku kenal menyapaku. Aku menoleh. Sebuah senyum mengembang. Ariel, karib Adi yang juga kenal aku. Di tangannya ada sebuah sabit dan keranjang penuh rumput segar.

“Hei kamu Riel? Aku dari rumah Adi ni. dia kemana ya kok gak ada.” Tanyaku.

“Kemana ya, aku kurang tahu juga...” Ariel gelagapan. Terbata menjawab pertanyaanku.

“Ada apa Riel? Kayaknya kamu nyembunyiin sesuatu tentang Adi?” Kejarku lebih lanjut.

“Ng…gak ada apa-apa kok, aku memang gak tahu Adi kemana.”

Ariel menghindari sorotan mataku.

“Sudah beberapa hari ini aku gak ketemu dia,” Ariel berusaha menyakinkan aku, “aku coba hubungi lewat handphone kakakku juga gak pernah jawab.”

Apa? Jadi Adi sudah mengaktifkan handphone-nya? Tapi kenapa dia tidak pernah sekalipun menghubungiku. Aku benar-benar tak menyangka Adi akan berubah sedrastis itu sekarang.

            “Kamu tahu nomernya Adi kan?” Tanyaku kemudian untuk menutupi keterkejutanku.

            “Di handphone kakakku ada, sekarang ke rumahku ya.”

Ariel memanggul keranjang rumputnya kemudian melangkah pelan ke arah rumahnya. Matahari hampir sepenggalah. Sinarnya telah semenjak tadi pagi menembus relung-relung daun pisang yang robek sana-sini.

                                                *****

Sudah tiga kali kutekan tombol ‘oke’ di handphone-ku untuk mengirim short message service ke nomor Adi, tetapi selalu tunda. Beberapa kali aku telepon namun selalu saja mail box. Aku pelototi nomor itu, barangkali ada yang kurang atau salah, tapi aku sangat yakin nomer yang diberikan Ariel sudah kutekan dengan benar.

Aku berusaha husnudzan. Mungkin handphone Adi sedang dimatikan karena di-cash atau lagi diluar jangkauan jaringan. Barangkali Adi telah ganti nomer atau mungkin juga handphone-nya telah dijual.

Setelah satu hari kondisinya tetap sama, aku sepertinya memang harus berpikir lain. Mungkinkah Adi telah tidak ingin bersahabat lagi dengan aku?

Hari masih buta ketika handphonen-ku mengabarkan adanya tiga buah pesan masuk. Ini pasti dari Adi, harapku. Ketika aku buka, semuanya berisi laporan bahwa short message service yang aku kirimkan kemarin telah gagal terkirim. Ah! Hampir saja handphone itu aku banting ke tanah kalau saja tidak ingat ia hadiah ayah.

                                                *****

Kembali terlukis jelas di mataku keceriaan hari-hariku bersama Adi yang kini  mungkin tak akan teruntai lagi.

“Di, cita-cita kamu apa?” Ujarku suatu ketika setelah kami lelah belajar di tangga terbawah masjid pesantren.

“Ah kamu, apa orang seperti aku masih bisa punya cita-cita?”

“Kenapa nggak? Kalau kamu gak mau punya cita-cita yang melangit ya udah cita-cita yang membumi aja.”

“Maksud kamu?” Mulut Adi melongo dengan mata dipicingkan.

“Ya, kamu boleh bercita-cita jadi katak gitu, atau paling tidak semut, kan semuanya melata di bumi.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutku tanpa sebuah perasaan berdosa.

Adipun begitu. Senyelekit apapun kata-kataku, dia tak pernah sekalipun marah, seakan menganggapnya sebagai sebuah perekat tali persahabatan.

“Gak apa-apa sih, tapi siap-siaplah gak nyenyak tidur karena aku akan masuk ke telinga kamu!”

“O kalau gitu, siap-siaplah kupites kamu pake ini.” Aku acungkan jari kelingkingku ke depan mukanya.

“Curang kamu, masak sahabat sendiri mau dibunuh…..?”

Ejek-ejekan tersebut terus saja berlangsung dalam suasana kekentalan persatuan perasaan yang meresap ke bilik terdalam dari sanubari kami.

Bahkan ada sebuah episode dari untaian persahabatan kami yang tak akan pernah aku lupakan sepanjang nafas masih mendesah sempurna. Saat aku sakit agak parah dan tidak diizinkan pulang oleh pengurus pesantren. Padahal aku merasa sakitku kali ini akan lama sembuhnya. Aku kuatir penyakit typus yang pernah kuderita setahun lalu kambuh lagi.

“Kamu harus ke dokter, Yan…” Adi tergopoh-gopoh masuk kamar pondok begitu datang dari sekolah setelah  tahu aku tidak masuk sekolah karena sakit.

Aku diam, tak ada gairah menjawab ajakan Adi. Kepala pusing, tenggorokan kering dan sulit menelan ludah. Keringat dingin keluar terus menerus.

“Badanmu panas sekali, kamu harus segera ke dokter!” Adi menyentuh keningku dengan lembut. Kemudian bergegas keluar. Sebentar saja ia telah kembali membawa sebuah baskom plastik berisi air dan menyambar handuk yang tercanting di belakang pintu.

“Sejak kapan kamu sakit, semalam kan masih sehat?”

Dengan perlahan Adi mulai mengompres keningku. Ada kesejukan melebihi dinginnya kompresan. Sebuah kesejukan yang berasal dari keihkhlasan sebuah kekariban.

“Kamu belum makan kan?” Ada mendung menggelayut di kening Adi. “Aku belikan di kantin ya,” kembali tangan Adi menyentuh keningku. Aku jadi teringat ibu. Beliaulah biasanya yang dengan sabar dan telaten merawatku ketika aku sakit, tapi saat aku jauh dari beliau, Adilah yang menggantikannya. “Kamu harus paksain makan agar gak lemes seperti ini.”

Tanpa tunggu jawabku, Adi keluar kamar sembari memeriksa uang yang ada di saku celanya.

“Ni uangnya, Di…” Teriakku parau, tapi Adi telah menghilang di balik pintu.

Jam menunjukkan pukul dua siang ketika ia datang dengan sebungkus nasi.

“Kantin ramai banget, sekarang kan waktunya anak-anak pada makan.” Kata Adi sambil dan memaksaku untuk duduk.

Melihat makanan itu aku mual, baunya yang menyengat menusuk perutku. Padahal dalam keadaan sehat makanan dari kantin pesantren merupakan menu favoritku.

“Aku gak mau makan, Di.” Aku melengos.

“Lho, kamu harus paksain makan biar perutmu gak kosong!” Adi merajuk.

Aku tetap tak bergeming.

“Aku suapin ya?”

Adi mengambil sendok dan menyuapkan nasi itu ke mulutku. Dengan terpaksa kubuka bibir dan perlahan mulai mengunyah. Tidak sampai tiga suapan aku tak bisa paksa perutku untuk menerima makanan lagi.

Selesai menyuapin aku, Adi membuka lemari pakaianku. Mengambil sarung dan hem yang terlipat rapi di sana.

“Ke dokter sekarang ya, penyakit jangan pernah dibiarin!”

Dengan telaten Adi membuka baju dan sarung yang aku pakai serta menggantinya dengan yang bersih. Aku diam saja menuruti perlakuan Adi. Kepalaku sangat pusing dan tenaga seakan habis sama sekali.

 “Aku gak mampu jalan, Di.”

“Aku papah aja ya?”

Adi merengkuhku, memapahku dengan hati-hati keluar kamar dan berjalan melintasi halaman pesantren. Walaupun bayang-bayang Belinjo telah mulai memanjang ke arah timur, tapi sinar matahari yang menyentuh kulitku seakan membakarku.

Tanpa terasa air mataku menetes dan jatuh ke aspal yang masih panas, meresapi keikhlasan kasih sayang yang telah diperankan Adi dengan begitu sempurna, sesempurna mekarnya putik-putik Bongenvil di halaman pesantren.

                                                *****

“Hah, bisa!”

Hampir saja handphone yang kupegang terjatuh begitu mengetahui nomer Adi pagi ini bisa aku hubungi. 

“Ayo angkat, Di…”

Suara di seberang kembali menyembulkan nada tulalit, tapi aku terus mencobanya.

“Angkat, Di!”

Sepuluh kali aku putar nomor Adi, tetap saja tak diangkat.

                                                *****

“Adi datang. Cepat ke rumahnya!”

Begitulah bunyi short message service Ariel. Aku tak menunggu lagi. Kuliah Filsafat Pendidikan Islam yang diampu oleh dosen favoritku tak lagi kuhiraukan. Hanya satu yang kuinginkan, segera bertemu Adi!

Udara masih menusuk pori ketika aku sampai di ujung jalan menuju rumah Adi. Tampak kelebat tubuh Adi sedang menyiram kenanganya. Ingin segera menyongsongnya tetapi kakiku tertahan. Aku harus kembali berpikir keras untuk menilai semua sikapku pada dia selama ini, sebelum aku benar-benar menemuinya. Mungkin ada sikapku yang sangat menyinggung perasaannya sehingga tak lagi mau bersahabat bahkan untuk sekedar mengingatku saja tak sudi.

Semakin keras berpikir, aku semakin tidak mengerti dengan kesalahan apa yang telah kuperbuat. Saat berpisah, semua baik-baik saja. Di akhir pertemuan itu, persahabatan kami seperti biasanya, mesra dalam keikhlasan.

Setelah yakin tidak ada salah yang aku perbuat, kulangkahkan kaki beralaskan keraguan. Adi masih menyiram Kenanganya.

“Di…”

Kerinduanku terhadap seorang sahabat, seorang saudara telah menahan langkahku di ujung halaman rumah Adi.

“Oh, kamu…” Adi menoleh, kemudian melanjutkan menyiram Kenanganya yang tinggal sebatang.

Ada palu godam seberat gunung Uhud menghantam harapanku. Sebuah keterkejutan yang luar biasa yang aku harapkan muncrat dari kerinduan Adi tak aku dapatkan. Tak ada lonjak kegirangan. Bahkan sebuah senyumpun seakan begitu mahal terlukis di bibir Adi.

                                                *****

“Ada apa kamu ke sini?” wajah Adi mengeras. Tatap mata menjauh dari mukaku. Senyum tetap asing di bibirnya.

“Gak salah pertanyaanmu, Di?” Aku usahakan menyunggingkan senyum termanis yang pernah aku punya.

“Bukankah kamu datang ke sini hanya untuk mentertawakan nasibku!”

Suara Adi terasa begitu lain di telingaku. Sejak kapan Adi punya suara bariton. Suara yang tidak pernah aku dengar selama enam tahun bersahabat dengan dia.

“Kamu gak sedang sakit kan?” Aku monyongkan mulutku supaya terlihat lucu di mata Adi, kemudian mau tersenyum lalu terbahak, “Kenapa kamu nyangka aku akan menghinamu?”

“Udahlah, jujur aja, Yan!” Tatap mata Adi tetap saja melintasi halaman, tak mau silaturrahim ke wajahku.

“Di, persahabatan yang mengikat kita tak kan pernah mampu membuat kita untuk saling menghina, kan?” Aku berusaha menekan intonasi suaraku agar terdengar begitu serius di telinga Adi.

“Bukankah kamu seminggu yang lalu telah ke rumahku?” Adi berpaling ke arahku dengan pandangan meranggas.

Aku takluk. Di hadapan Adi, aku seakan pesakitan yang sebentar lagi akan divonis.

“Salahkah aku ke rumahmu?” Aku tahan nafas, agar marahku tak mendahului kata-kataku, “Salah?! Jika aku ingin bertemu dengan sahabat terdekatku, mengetahui keadaan saudaraku?!?”

“Salah besar! Kamu pingen tahu keadaanku, apa yang aku kerjakan setelah keluar dari pesantren, untuk kemudian menghinaku, mencemoohku karena aku ‘berangkat’ kan?” Nafas Adi tersengal. Bulir-bulir keringat menetes deras di antara dua alisnya.

“Ya Allah, Di… Sejauh itukah prasangkamu padaku?!?” Nafasku mulai tak beraturan. Jantungku berdetak lebih kencang berpacu dengan emosiku yang mulai berlari begitu trengginas. “Itukah makna sahabat yang selama ini kita lukis bersama di mata kamu? Serendah itu?”

Adi mematung!

“Aku benar-benar gak ngerti kenapa kamu bisa sesensitif  dan sepicik itu ke aku, sahabat yang selama ini telah berusaha untuk bersaudara dengan kamu,” kususun kembali sisa-sisa  kearifanku agar pertemuan pertamaku dengan sahabatku, saudaraku ini tidak menjadi momen yang paling sangat menyesakkan, “aku telah berikan handphone kesayanganku saat kita berpisah agar kita tetap bisa saling menyapa, tapi kamu gak pernah sekalipun sms aku bahkan waktu kutelepon kamu gak pernah angkat, lalu ketika kudatang menemuimu, ingin tahu keadaanmu, kangen, buah dari kesehatian persahabatanku, kamu malah menuduhku sesadis itu.” Langit menghitam di mataku. “Aku tahu kamu ‘berangkat’, justru karena kamu yang mengatakannya tadi!”

Adi tetap mematung.

“Lalu kenapa kalau kamu memang ‘berangkat’? Apakah aku tidak boleh lagi bersahabat? Atau kamu tidak ingin lagi bersaudara? Apakah dengan  ke-berangkat-an kamu, menjadi pembatas persahabatan-persaudaraan kita?”

Adi, patung itu, mulai luruh. Pandangannya jatuh ke bawah. Menghantam tanah!

“Di, enam tahun bukanlah waktu yang terlalu singkat untuk kita saling lupa  dan menjauh begitu saja,” aku melangkah lebih mendekat ke tempat Adi berdiri, “apakah kamu lupa dengan semua wejangan kyai kita bahwa persahabatan adalah perasaan yang universal, ia melintasi ruang dan waktu, menembus batas dan sekat.”

“Maafkan aku, Yan”

Patung itu akhirnya menangis juga. Menubruk dan memelukku dengan begitu erat.

“Mungkin aku terlalu picik menilai hubungan kita selama ini.”

Air mata Adi deras mengaliri bahuku, menerkam hatiku, mengiris jiwaku.

“Aku malu padamu dengan pekerjaanku yang seperti ini.” Adi menyeka air matanya perlahan, “aku kira kamu akan menjauhiku begitu tahu aku ‘berangkat’!”

“Arifilah, Di,” aku mengeratkan pelukanku, merengkuh jiwa Adi yang selama ini hilang kembali mendekat ke hatiku, “aku bersahabat denganmu bukan karena kamu anak siapa, pekerjaanmu bagaimana, dan keyakinanmu apa, berbeda sekalipun aku tak peduli, sebab aku bersahabat denganmu karena hatimu!”

Senggukan Adi semakin sempurna. Pelukannya seakan tak bisa dipisahkan kembali. Adi tak mampu berkata-kata lagi. Hanya dekapannya yang membahasakan bahwa aku telah mendapatkan kembali sahabatku yang hilang.

“Perbedaan itu milik kita, Di…”

            Kenanga di halaman rumah Adi merekah sempurna, menyeruakkan aroma putih yang sakral, sesakral persahabatan kami yang kembali terangkai.

                                                                                   

                                                            Sumenep, 02-04 Agustus 2007

 

 

 1Berangkat adalah istilah yang dilekatkan pada para pencari dana yayasan yang menaungi pesantren maupun lembaga pendidikan dari Desa Pragaan Daja Kecamatan Pragaan Kabupaten Sumenep Jawa Timur ketika mereka berangkat mencari dana ke berbagai daerah di penjuru tanah air. Orang-orang di luar desa Pragaan Daja mengecap mereka sebagai pengemis profesional karena dana yang mereka kumpulkan dari masyarakat hanya sebagian kecil yang masuk ke yayasan selebihnya diambil oleh orang yang ‘berangkat’ tadi, sedangkan dana yang masuk ke yayasan itupun lebih banyak yang digunakan untuk kepentingan pribadi pengurus yayasan, oleh karena itu orang-orang Pragaan Daja yang biasa ‘berangkat’ selalu berusaha menutup-nutupi pekerjaan mereka tersebut terhadap orang-orang di luar desa Pragaan Daja.

 

 

 

2 komentar:

  1. Tulisan keren. Mantap. Salam literasi. Smg saling silaturahmi ke www.aleepenaku.com

    BalasHapus
  2. Terimakasih, Pak. Saya sudah berkunjung ke www.aleepenaku.com keren banget. Semoga saya bisa segera nyusul. Mohon doa dan bimbingannya Pak

    BalasHapus