Cerpen:
Mohamad Johan
Dengan segera aku ambil handphone-ku begitu selesai sholat Dhuhur. Sudah beberapa hari ini aku kehilangan kontak dengan Adi, sahabat karibku waktu masih mondok di Pesantren Annuqayah Guluk-guluk Sumenep. Ia laksana saudara. Sehari-hari waktu di pondok senantiasa bersama. Makan, nimum, ngaji dan nyuci selalu bersama, selama enam tahun. Tapi semenjak dua bulan berhenti dari pesantren, aku sama sekali kehilangan kontak dengannya. Bertemu terakhir kali saat ia dipamitkan orang tuanya pada pengasuh.
“Jadi kuliah di sini, Yan?” mata Adi
berkaca-kaca saat hari terakhir perpisahan kami itu.
“Ia.” Jawabku singkat tanpa mampu
menatap matanya.
Hening.
“Kamu sendiri gimana, Di?”
Seluit senja mulai terlukis di ufuk barat disertai mendung yang
bergelantungan, seperti wajah Adi saat ini.
“Tahu sendiri kan kemampuan orang
tuaku?” Adi mendesah, menghela nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan
berat.
“Tolong terima bantuanku ya?” Aku
kembali mendesaknya. Sejak kemarin aku yakinkan pada Adi, asalkan punya
keinginan untuk kuliah, aku bersedia mencarikan jalan keluar masalah biayanya.
“Hutang budiku padamu tak terbilang.” Adi membetulkan letak songkoknya
yang sudah kemerah-merahan di makan usia itu hingga tegak lagi seperti semula.
“Aku tidak ingin selalu menjadi beban bagi orang lain.”
Itulah yang tidak aku suka dari Adi. Terlalu perasa. Segala bantuan yang
aku berikan selama ini selalu dihitung sebagai budi. Atau mungkin seperti
itulah sikap orang-orang seperti Adi.
“Apakah aku orang lain bagimu?” Kucoba terus mendesaknya.
Adi terpekur. Ia memang selalu tak pernah menjawab setiap kali pertanyaan
itu aku lontarkan. Aku juga sebenarnya tak perlu selalu menanyakan itu, karena
perhatian, sikap dan doa Adi kepadaku bahkan telah seperti saudara.
Mulut kami lalu terkunci. Diam selaksa bahasa. Hanya pandangan yang kupaksakan
menatap Adi yang matanya penuh bulir-bulir mengkristal. Ada ketidakrelaan untuk
sebuah perpisahan. Tapi bukankah perpisahan memang milik orang-orang yang telah
bertemu?
Dengan tetap bungkam, aku berikan bungkusan berisi handphone pada
Adi yang memang kusiapkan begitu tahu Adi akan berhenti dari pesantren. Handphone
yang selama ini aku pegang itu memang diingini Adi. Sementara aku kemarin telah
dapat hadiah handphone baru dari ayah karena aku lulus dengan nilai
terbaik di sekolah.
*****
Layar handphone-ku tetap saja hanya menampilkan simbol operator
seluler yang aku pakai. Tak ada panggilan tak terjawab maupun sebuah pesan
diterima. Kemana kamu, Di. Tak biasanya kamu memutuskan komunikasi seperti ini.
Bukankah kamu telah pegang handphone dan hafal betul dengan nomerku.
Kenapa kamu tidak menghubungiku lebih dulu agar aku bisa tahu keadaan kamu?
Ada rasa sesal kenapa tidak sekalian kubelikan nomer perdana untuk Adi,
sehingga jika dia tidak menghubungiku maka kubisa menghubunginya lebih dulu.
Ah, penyesalan memang tak pernah datang di awal waktu.
Dua bulan tidak berjumpa dan berkomunikasi dengan Adi telah cukup
membuatku merasa sangat kehilangan. Canda tawanya, keceriaannya dan terkadang
kekonyolannya. Ia tak pernah marah dan selalu punya segudang maaf untuk setiap
kesalahanku yang selalu terulang. Sebagai sahabat, Adi adalah sahabat terindah.
Ada juga kerinduan. Saat hari tak lagi penuh dengan senyum Adi. Tanpa
sadar, ia selama ini telah menjadi keranjang sampah dari semua keluh kesahku,
teman diskusi yang menyenangkan bahkan tempat pelampiasan kemarahanku. Di rumah
aku anak tunggal sehingga tak pernah punya tempat untuk berbagi dengan orang
yang sehati. Aku hanya menemukannya pada diri Adi. Sebagai saudara, Adi adalah
saudara sejati.
*****
Tetes embun masih perawan ketika aku meninggalkan gerbang pesantren. aku
tak bisa lagi membiarkan rasa penasaran membunuhku. Hari ini aku bertekad ke
rumah Adi. Aku harus tunjukkan perhatian padanya sebagaimana ia sangat
perhatian padaku.
“Assalamu’alaikum.”
Rumah berdinding anyaman bambu itu tampak rapi dan bersih. Keasrian
ternyata tidak hanya milik rumah mewah dan bertingkat.
Aku ulangi sekali salamku. Belum juga ada yang menyahut. Bila sama Adi
biasanya aku langsung masuk ke kamarnya. Orang tuanya sudah menganggapku
sebagai anak. Bercengkrama dengan mereka, menemukan keceriaan yang jujur dan
kenestapaan yang asli.
Tapi sekarang kemana penghuni rumah yang agak reyot itu? Kenapa rumah yang
biasa riang itu sekarang bungkam. Aku berbalik menuju penyabit rumput di
seberang rumah Adi.
“Maaf Pak, numpang nanya.”
“Ia Nak, ada apa.” Penyabit rumput itu menoleh dengan senyuman tersembul
di sudut bibirnya.
“Sampean lihat Adi, Pak? Saya temannya waktu di pesantren.”
“Semenjak beberapa hari yang lalu aku tak pernah lihat dia, biasanya
selalu menyabit rumput di sini.” Raut wajah penyabit rumput itu berkerut.
“Kalau orang tuanya kira-kira kemana ya Pak?” Kejarku lebih lanjut.
“Kalau jam segini biasanya lagi ke ladang atau lagi ‘berangkat’1.”
*****
Kuseret langkahku dengan enggan menjauh dari rumah yang nyaman tapi sedang
hening tersebut. Adi seakan telah jadi orang sakti yang tak bisa ditemui
sembarang orang atau orang penting yang sulit dijumpai karena selalu sibuk
dengan urusan tugas dan urusan pribadi.
Kutoleh rumah yang tetap bisu itu sekali lagi. Aku harap Adi akan muncul seraya menghambur mengejar atau paling tidak
memanggil. Tapi yang aku dapati hanya seutas angin di ranting-ranting Kenanga
yang banyak tumbuh di halaman rumah Adi.
“Dari mana Yan?”
Satu suara yang agaknya aku kenal menyapaku. Aku menoleh. Sebuah senyum mengembang.
Ariel, karib Adi yang juga kenal aku. Di tangannya ada sebuah sabit dan keranjang
penuh rumput segar.
“Hei kamu Riel? Aku dari rumah Adi ni. dia kemana ya kok gak ada.” Tanyaku.
“Kemana ya, aku kurang tahu juga...” Ariel gelagapan. Terbata menjawab
pertanyaanku.
“Ada apa Riel? Kayaknya kamu nyembunyiin sesuatu tentang Adi?” Kejarku lebih
lanjut.
“Ng…gak ada apa-apa kok, aku memang gak tahu Adi kemana.”
Ariel menghindari sorotan mataku.
“Sudah beberapa hari ini aku gak ketemu dia,” Ariel berusaha menyakinkan
aku, “aku coba hubungi lewat handphone kakakku juga gak pernah jawab.”
Apa? Jadi Adi sudah mengaktifkan handphone-nya? Tapi kenapa dia tidak
pernah sekalipun menghubungiku. Aku benar-benar tak menyangka Adi akan berubah
sedrastis itu sekarang.
“Kamu tahu nomernya Adi kan?” Tanyaku
kemudian untuk menutupi keterkejutanku.
“Di handphone kakakku ada,
sekarang ke rumahku ya.”
Ariel memanggul keranjang rumputnya kemudian melangkah pelan ke arah
rumahnya. Matahari hampir sepenggalah. Sinarnya telah semenjak tadi pagi
menembus relung-relung daun pisang yang robek sana-sini.
*****
Sudah tiga kali kutekan tombol ‘oke’ di handphone-ku untuk
mengirim short message service ke nomor Adi, tetapi selalu tunda. Beberapa
kali aku telepon namun selalu saja mail box. Aku pelototi nomor itu,
barangkali ada yang kurang atau salah, tapi aku sangat yakin nomer yang diberikan
Ariel sudah kutekan dengan benar.
Aku berusaha husnudzan. Mungkin handphone Adi sedang dimatikan
karena di-cash atau lagi diluar jangkauan jaringan. Barangkali Adi telah
ganti nomer atau mungkin juga handphone-nya telah dijual.
Setelah satu hari kondisinya tetap sama, aku sepertinya memang harus
berpikir lain. Mungkinkah Adi telah tidak ingin bersahabat lagi dengan aku?
Hari masih buta ketika handphonen-ku mengabarkan adanya tiga buah
pesan masuk. Ini pasti dari Adi, harapku. Ketika aku buka, semuanya berisi
laporan bahwa short message service yang aku kirimkan kemarin telah
gagal terkirim. Ah! Hampir saja handphone itu aku banting ke tanah kalau
saja tidak ingat ia hadiah ayah.
*****
Kembali terlukis jelas di mataku keceriaan hari-hariku bersama Adi yang
kini mungkin tak akan teruntai lagi.
“Di, cita-cita kamu apa?” Ujarku suatu ketika setelah kami lelah belajar
di tangga terbawah masjid pesantren.
“Ah kamu, apa orang seperti aku masih bisa punya cita-cita?”
“Kenapa nggak? Kalau kamu gak mau punya cita-cita yang melangit ya udah
cita-cita yang membumi aja.”
“Maksud kamu?” Mulut Adi melongo dengan mata dipicingkan.
“Ya, kamu boleh bercita-cita jadi katak gitu, atau paling tidak semut,
kan semuanya melata di bumi.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutku
tanpa sebuah perasaan berdosa.
Adipun begitu. Senyelekit apapun kata-kataku, dia tak pernah sekalipun
marah, seakan menganggapnya sebagai sebuah perekat tali persahabatan.
“Gak apa-apa sih, tapi siap-siaplah gak nyenyak tidur karena aku akan masuk
ke telinga kamu!”
“O kalau gitu, siap-siaplah kupites kamu pake ini.” Aku acungkan jari
kelingkingku ke depan mukanya.
“Curang kamu, masak sahabat sendiri mau dibunuh…..?”
Ejek-ejekan tersebut terus saja berlangsung dalam suasana kekentalan
persatuan perasaan yang meresap ke bilik terdalam dari sanubari kami.
Bahkan ada sebuah episode dari untaian persahabatan kami yang tak akan
pernah aku lupakan sepanjang nafas masih mendesah sempurna. Saat aku sakit agak
parah dan tidak diizinkan pulang oleh pengurus pesantren. Padahal aku merasa
sakitku kali ini akan lama sembuhnya. Aku kuatir penyakit typus yang
pernah kuderita setahun lalu kambuh lagi.
“Kamu harus ke dokter, Yan…” Adi tergopoh-gopoh masuk kamar pondok begitu
datang dari sekolah setelah tahu aku
tidak masuk sekolah karena sakit.
Aku diam, tak ada gairah menjawab ajakan Adi. Kepala pusing, tenggorokan
kering dan sulit menelan ludah. Keringat dingin keluar terus menerus.
“Badanmu panas sekali, kamu harus segera ke dokter!” Adi menyentuh
keningku dengan lembut. Kemudian bergegas keluar. Sebentar saja ia telah
kembali membawa sebuah baskom plastik berisi air dan menyambar handuk yang
tercanting di belakang pintu.
“Sejak kapan kamu sakit, semalam kan masih sehat?”
Dengan perlahan Adi mulai mengompres keningku. Ada kesejukan melebihi dinginnya
kompresan. Sebuah kesejukan yang berasal dari keihkhlasan sebuah kekariban.
“Kamu belum makan kan?” Ada mendung menggelayut di kening Adi. “Aku
belikan di kantin ya,” kembali tangan Adi menyentuh keningku. Aku jadi teringat
ibu. Beliaulah biasanya yang dengan sabar dan telaten merawatku ketika aku
sakit, tapi saat aku jauh dari beliau, Adilah yang menggantikannya. “Kamu harus
paksain makan agar gak lemes seperti ini.”
Tanpa tunggu jawabku, Adi keluar kamar sembari memeriksa uang yang ada di
saku celanya.
“Ni uangnya, Di…” Teriakku parau, tapi Adi telah menghilang di balik
pintu.
Jam menunjukkan pukul dua siang ketika ia datang dengan sebungkus nasi.
“Kantin ramai banget, sekarang kan waktunya anak-anak pada makan.” Kata Adi
sambil dan memaksaku untuk duduk.
Melihat makanan itu aku mual, baunya yang menyengat menusuk perutku. Padahal
dalam keadaan sehat makanan dari kantin pesantren merupakan menu favoritku.
“Aku gak mau makan, Di.” Aku melengos.
“Lho, kamu harus paksain makan biar perutmu gak kosong!” Adi merajuk.
Aku tetap tak bergeming.
“Aku suapin ya?”
Adi mengambil sendok dan menyuapkan nasi itu ke mulutku. Dengan terpaksa
kubuka bibir dan perlahan mulai mengunyah. Tidak sampai tiga suapan aku tak bisa
paksa perutku untuk menerima makanan lagi.
Selesai menyuapin aku, Adi membuka lemari pakaianku. Mengambil sarung dan
hem yang terlipat rapi di sana.
“Ke dokter sekarang ya, penyakit jangan pernah dibiarin!”
Dengan telaten Adi membuka baju dan sarung yang aku pakai serta menggantinya
dengan yang bersih. Aku diam saja menuruti perlakuan Adi. Kepalaku sangat
pusing dan tenaga seakan habis sama sekali.
“Aku gak mampu jalan, Di.”
“Aku papah aja ya?”
Adi merengkuhku, memapahku dengan hati-hati keluar kamar dan berjalan melintasi
halaman pesantren. Walaupun bayang-bayang Belinjo telah mulai memanjang ke arah
timur, tapi sinar matahari yang menyentuh kulitku seakan membakarku.
Tanpa terasa air mataku menetes dan jatuh ke aspal yang masih panas, meresapi
keikhlasan kasih sayang yang telah diperankan Adi dengan begitu sempurna,
sesempurna mekarnya putik-putik Bongenvil di halaman pesantren.
*****
“Hah, bisa!”
Hampir saja handphone yang kupegang terjatuh begitu mengetahui
nomer Adi pagi ini bisa aku hubungi.
“Ayo angkat, Di…”
Suara di seberang kembali menyembulkan nada tulalit, tapi aku terus
mencobanya.
“Angkat, Di!”
Sepuluh kali aku putar nomor Adi, tetap saja tak diangkat.
*****
“Adi datang. Cepat ke rumahnya!”
Begitulah bunyi short message service Ariel. Aku tak menunggu
lagi. Kuliah Filsafat Pendidikan Islam yang diampu oleh dosen favoritku tak
lagi kuhiraukan. Hanya satu yang kuinginkan, segera bertemu Adi!
Udara masih menusuk pori ketika aku sampai di ujung jalan menuju rumah
Adi. Tampak kelebat tubuh Adi sedang menyiram kenanganya. Ingin segera
menyongsongnya tetapi kakiku tertahan. Aku harus kembali berpikir keras untuk
menilai semua sikapku pada dia selama ini, sebelum aku benar-benar menemuinya. Mungkin
ada sikapku yang sangat menyinggung perasaannya sehingga tak lagi mau bersahabat
bahkan untuk sekedar mengingatku saja tak sudi.
Semakin keras berpikir, aku semakin tidak mengerti dengan kesalahan apa
yang telah kuperbuat. Saat berpisah, semua baik-baik saja. Di akhir pertemuan
itu, persahabatan kami seperti biasanya, mesra dalam keikhlasan.
Setelah yakin tidak ada salah yang aku perbuat, kulangkahkan kaki
beralaskan keraguan. Adi masih menyiram Kenanganya.
“Di…”
Kerinduanku terhadap seorang sahabat, seorang saudara telah menahan
langkahku di ujung halaman rumah Adi.
“Oh, kamu…” Adi menoleh, kemudian melanjutkan menyiram Kenanganya yang
tinggal sebatang.
Ada palu godam seberat gunung Uhud menghantam harapanku. Sebuah
keterkejutan yang luar biasa yang aku harapkan muncrat dari kerinduan Adi tak
aku dapatkan. Tak ada lonjak kegirangan. Bahkan sebuah senyumpun seakan begitu
mahal terlukis di bibir Adi.
*****
“Ada apa kamu ke sini?” wajah Adi mengeras. Tatap mata menjauh dari
mukaku. Senyum tetap asing di bibirnya.
“Gak salah pertanyaanmu, Di?” Aku usahakan menyunggingkan senyum termanis
yang pernah aku punya.
“Bukankah kamu datang ke sini hanya untuk mentertawakan nasibku!”
Suara Adi terasa begitu lain di telingaku. Sejak kapan Adi punya suara
bariton. Suara yang tidak pernah aku dengar selama enam tahun bersahabat dengan
dia.
“Kamu gak sedang sakit kan?” Aku monyongkan mulutku supaya terlihat lucu
di mata Adi, kemudian mau tersenyum lalu terbahak, “Kenapa kamu nyangka aku
akan menghinamu?”
“Udahlah, jujur aja, Yan!” Tatap mata Adi tetap saja melintasi halaman,
tak mau silaturrahim ke wajahku.
“Di, persahabatan yang mengikat kita tak kan pernah mampu membuat kita
untuk saling menghina, kan?” Aku berusaha menekan intonasi suaraku agar
terdengar begitu serius di telinga Adi.
“Bukankah kamu seminggu yang lalu telah ke rumahku?” Adi berpaling ke
arahku dengan pandangan meranggas.
Aku takluk. Di hadapan Adi, aku seakan pesakitan yang sebentar lagi akan
divonis.
“Salahkah aku ke rumahmu?” Aku tahan nafas, agar marahku tak mendahului kata-kataku,
“Salah?! Jika aku ingin bertemu dengan sahabat terdekatku, mengetahui keadaan
saudaraku?!?”
“Salah besar! Kamu pingen tahu keadaanku, apa yang aku kerjakan setelah
keluar dari pesantren, untuk kemudian menghinaku, mencemoohku karena aku ‘berangkat’
kan?” Nafas Adi tersengal. Bulir-bulir keringat menetes deras di antara dua
alisnya.
“Ya Allah, Di… Sejauh itukah prasangkamu padaku?!?” Nafasku mulai tak
beraturan. Jantungku berdetak lebih kencang berpacu dengan emosiku yang mulai
berlari begitu trengginas. “Itukah makna sahabat yang selama ini kita lukis
bersama di mata kamu? Serendah itu?”
Adi mematung!
“Aku benar-benar gak ngerti kenapa kamu bisa sesensitif dan sepicik itu ke aku, sahabat yang selama
ini telah berusaha untuk bersaudara dengan kamu,” kususun kembali sisa-sisa kearifanku agar pertemuan pertamaku dengan
sahabatku, saudaraku ini tidak menjadi momen yang paling sangat menyesakkan,
“aku telah berikan handphone kesayanganku saat kita berpisah agar kita
tetap bisa saling menyapa, tapi kamu gak pernah sekalipun sms aku bahkan
waktu kutelepon kamu gak pernah angkat, lalu ketika kudatang menemuimu, ingin
tahu keadaanmu, kangen, buah dari kesehatian persahabatanku, kamu malah
menuduhku sesadis itu.” Langit menghitam di mataku. “Aku tahu kamu ‘berangkat’,
justru karena kamu yang mengatakannya tadi!”
Adi tetap mematung.
“Lalu kenapa kalau kamu memang ‘berangkat’? Apakah aku tidak boleh
lagi bersahabat? Atau kamu tidak ingin lagi bersaudara? Apakah dengan ke-berangkat-an kamu, menjadi pembatas
persahabatan-persaudaraan kita?”
Adi, patung itu, mulai luruh. Pandangannya jatuh ke bawah. Menghantam tanah!
“Di, enam tahun bukanlah waktu yang terlalu singkat untuk kita saling
lupa dan menjauh begitu saja,” aku
melangkah lebih mendekat ke tempat Adi berdiri, “apakah kamu lupa dengan semua wejangan
kyai kita bahwa persahabatan adalah perasaan yang universal, ia melintasi ruang
dan waktu, menembus batas dan sekat.”
“Maafkan aku, Yan”
Patung itu akhirnya menangis juga. Menubruk dan memelukku dengan begitu
erat.
“Mungkin aku terlalu picik menilai hubungan kita selama ini.”
Air mata Adi deras mengaliri bahuku, menerkam hatiku, mengiris jiwaku.
“Aku malu padamu dengan pekerjaanku yang seperti ini.” Adi menyeka air
matanya perlahan, “aku kira kamu akan menjauhiku begitu tahu aku ‘berangkat’!”
“Arifilah, Di,” aku mengeratkan pelukanku, merengkuh jiwa Adi yang selama
ini hilang kembali mendekat ke hatiku, “aku bersahabat denganmu bukan karena
kamu anak siapa, pekerjaanmu bagaimana, dan keyakinanmu apa, berbeda sekalipun
aku tak peduli, sebab aku bersahabat denganmu karena hatimu!”
Senggukan Adi semakin sempurna. Pelukannya seakan tak bisa dipisahkan
kembali. Adi tak mampu berkata-kata lagi. Hanya dekapannya yang membahasakan
bahwa aku telah mendapatkan kembali sahabatku yang hilang.
“Perbedaan itu milik kita, Di…”
Kenanga di halaman rumah Adi merekah
sempurna, menyeruakkan aroma putih yang sakral, sesakral persahabatan kami yang
kembali terangkai.
Sumenep,
02-04 Agustus 2007
1Berangkat
adalah istilah yang dilekatkan pada para pencari dana yayasan yang menaungi
pesantren maupun lembaga pendidikan dari Desa Pragaan Daja Kecamatan Pragaan Kabupaten
Sumenep Jawa Timur ketika mereka berangkat mencari dana ke berbagai daerah di
penjuru tanah air. Orang-orang di luar desa Pragaan Daja mengecap mereka
sebagai pengemis profesional karena dana yang mereka kumpulkan dari masyarakat
hanya sebagian kecil yang masuk ke yayasan selebihnya diambil oleh orang yang ‘berangkat’
tadi, sedangkan dana yang masuk ke yayasan itupun lebih banyak yang digunakan
untuk kepentingan pribadi pengurus yayasan, oleh karena itu orang-orang Pragaan
Daja yang biasa ‘berangkat’ selalu berusaha menutup-nutupi pekerjaan
mereka tersebut terhadap orang-orang di luar desa Pragaan Daja.

Tulisan keren. Mantap. Salam literasi. Smg saling silaturahmi ke www.aleepenaku.com
BalasHapusTerimakasih, Pak. Saya sudah berkunjung ke www.aleepenaku.com keren banget. Semoga saya bisa segera nyusul. Mohon doa dan bimbingannya Pak
BalasHapus