PROGRAM GURU PENGGERAK ITU ASYIK
Oleh: Mohamad Johan*
Program guru penggerak (PGP) diluncurukan pertama kali oleh Mendikbud Nadiem Makarim sekitar Juli 2020. Saya mendapatkan informasi tentang PGP melalui media sosial. Sama sekali tidak tertarik untuk mencari tahu lebih jauh. Semua berlalu begitu saja.
Hingga pada
suatu ketika, saya menjadi proktor di pelaksanaan asesmen nasional berbasis
komputer (ANBK). Proktor itu semacam operator pelaksanaan ANBK. Tugasnya
mengatur pelaksanaan asesmen melalui laptop. Dalam pelaksanaan ANBK itu seorang
proktor tidak banyak kerjaan. Banyakan nganggurnya. Yang banyak kerja adalah
murid yang ikut ANBK. Di tengah tak ada kerjaan itulah saya iseng membuka SIM
PKB dan ketemu dengan program guru penggerak ini. Dari nganggur dan iseng
itulah kemudian saya mengikuti seleksi calon guru penggerak (CGP).
Setelah
mencoba mengikuti proses seleksi awal CGP berupa pengisian bidodata dan esai,
akhirnya timbul juga motivasi untuk mengikuti CGP. Saya ingin meningkatkan
kompetensi sebagai guru melalui PGP ini, ingin lebih bermanfaat untuk
murid-murid saya dengan penambahan pengetahuan dan wawasan melalui PGP dan
berkontribusi positif pada dunia pendidikan di lingkungan saya.
Begitu
proses pendidikan CGP dimulai. Kesan pertama adalah dunia pendidikan kita sudah
berubah sedemikian rupa. Digitalisasi pendidikan adalah keniscayaan.
Pembelajaran sudah tak berbatas ruang. Di mana saja orang bisa belajar. Asal
mau.
Kendala awal
yang saya temui dalam mengikuti pendiddikan CGP adalah mengoperasikan learning
management system (LMS). Yaitu sebuah aplikasi pembelajaran dalam jaringan
(daring). LMS ini sama sekali baru bagi saya. Adanya banyak menu dan fitur di
LMS. Semua harus diakrabi agar pembelajaran bisa berlangsung maksimal. Kendala
awal ini dengan cepat bisa teratasi. Ada fasilitator yang siap membantu dan
mengurai kebingungan demi kebingungan yang saya temua di LMS.
Pembelajaran
di CGP berbasis LMS. Di LMS ada tiga modul yang harus dipelajari CGP. Tiap
modul terdiri dari beberapa sub modul. Semuanya berjumlah 10 sub modul. Dari
sepuluh sub modul itu yang paling menarik bagi saya adalah sub modul nilai dan
peran guru penggerak. Dari sub modul inilah saya menjadi mengerti tujuan PGP
ini dan apa yang harus saya lakukan nanti sebagai seorang guru penggerak.
Seiring
dengan berjalannya proses pembelajaran di CGP, pola pikir saya mulai berubah.
Terutama terkait dengan murid. Sebelumnya saya menganggap bahwa murid adalah
obyek pembelajaran. Sebagai guru saya paling mengerti apa yang terbaik untuk
murid saya dengan sama sekali manafikan keinginan, bakat dan minat murid saya.
Setelah berproses di CGP ini saya menjadi sadar. Muridlah subyek dari
pembelajaran itu. Pembelajaran mestinya berpusat pada murid. Murid adalah titik
tolak dan tujuan pembelajaran itu sendiri. Sebagai guru kita menuntun murid.
Mengarahkan murid. Membimbing murid. Agar bisa mencapai keselamatan dan
kebahagiaan. Baik sebagai pribadi maupun sebagai anggota masyarakat.
Dari paparan
di atas, dapat diketahui urgensi PGP ini. Yakni pada perubahan paradigma kita
terhadap murid, sekolah dan pendidikan. Perubahan paradigma itu akan membawa
perubahan pada perspektif, sikap dan perlakuan kita terhadap murid, sekolah dan
pendidikan. Dalam PGP ini paradigma lama kita akan diberi perbandingan dengan
paradigma baru yang mungkin sudah lama ada tapi selama ini kita abai
terhadapnya. Dari perbandingan itu kita akan menjadi sadar bahwa ada yang salah
dengan paradigma lama kita. Ada kebenaran yang tak terbantahkan dari paradigma
baru yang kita pelajari. Selanjutnya kita hanya akan berkata begini: oh iya ya…
PGP ini
solusi yang sangat tepat bagi guru yang ingin berubah dan berbenah. Guru yang
ingin keluar dari zona nyaman dan ingin memberikan yang terbaik bagi
murid-muridnya. Bahkan bukan hanya berubah dan berbenah tapi bergerak dan
menggerakkan. PGP adalah tempat belajar yang solutif bagi guru yang ingin terus
belajar. Guru yang berhenti berhenti belajar, berhentilah mengajar.
Setelah
lulus PGP ini saya berharap dapat menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan bagi
murid. Pembelajaran yang dapat memenuhi dahaga murid akan ilmu pengetahuan dan
karakter positif. Pembelajaran yang dapat mengembangkan bakat dan minat murid.
Di sisi lain, saya berharap dapat menjadi teladan positif bagi rekan-rekan
sejawat hingga sama-sama tergerak, bergerak dan menggerakkan menuju pendidikan
Indonesia yang lebih bermartabat.

0 komentar:
Posting Komentar