Senin, 23 Januari 2023

Sekilas Tentang Cerpen


 

SEKILAS TENTANG CERPEN:

Yang Saya Baca, Yang Saya Tahu, Yang Saya Alami*

Oleh: Mohamad Johan**

 

Mohammad Diponegoro, seorang cerpenis yang semasa hidupnya seminggu sekali membacakan karyanya di radio Australia, mengungkapkan bahwa dunia cerpen ialah alam di dasar laut karang. Makin dalam kita menyelam dengan minat tajam, makin asyik dan terpukau kita oleh keindahan dan kekayaannya. Kita bisa tergulir untuk jatuh cinta dan akhirnya membatalkan sama sekali niat untuk lari dari dunia cerpen.

 

Diponegoro seakan ingin berfatwa bahwa dunia cerpen adalah dunia yang sangat indah dan menarik, siapapun berhak untuk membuat dan menikmati keindahannya. Tak peduli apakah anda seorang koruptor, politisi, petani, ataupun santri sebuah pesantren. Yang pasti, masih kata Diponegoro, dunia cerpen menjanjikan kepuasan batin yang tiada tara, seperti perasaan setiap ibu yang terbaring di ranjang bersalin ketika mendengar tangis awal bayinya yang baru lahir.

 

Sebelum kita belajar menulis cerpen alangkah eloknya jika kita tahu, kiranya binatang apakah cerpen itu?  Phyllis Duganne, seorang penulis Amerika, mangatakan bahwa cerpen ialah susunan kalimat-kalimat yang merupakan cerita yang mempunyai awal, bagian tengah dan akhir. Dan setiap cerpen punya tema yakni inti cerita atau gagasan yang ingin disampaikan oleh cerita itu. Dan sebagai seperti namanya, cerita yang pendek, cerpen adalah bentuk cerita yang bisa tuntas dibaca dalam sekali duduk. Daerah lingkupnya kecil, dan karena itu biasanya ceritanya terpusat pada satu tokoh atau satu masalah. Ceritanya sangat kompak, tidak ada bagiannya yang hanta berfungsi sebagai embel-embel. Tiap bagiannya, tiap kalimatnya, tiap katanya, tiap tanda bacanya, tidak ada yang sia-sia. Semuanya memberi saham yang penting untuk menggerakkan jalan cerita, atau mengungkapkan watak tokoh, atau melukiskan suasana. Tidak ada bagian yang ompong, tidak ada yang kelebihan.

 

Karena itu menulis cerpen merupakan cara menulis yang paling selektif dan paling ekonomis. Menulis cerpen adalah menceritakan detail yang ingin kita sampaikan bukan memperlihatkannya. Oleh karena itu ada baiknya kita tengok lima aturan mengenai cerpen yang pernah disampaikan oleh Bapak Cerpen Modern, Edgar Allan Poe berikut ini. Pertama, cerpen harus pendek. Cerpen bagaikan kain yang ketat. Tidak banyak memberikan kelonggaran. Cerpenis yang berpengalaman akan selalu berusaha menghndari perangkap uraian panjang tentang tokoh cerita atau pemandangan alam. Ia tidak suka mengobral detail dan tidak membiarkan tokohnya bicara terlalu banyak. Kecuali  hanya bila diperlukan untuk menampakkan watak, menjalankan cerita, atau menampilkan problem. Kedua, cerpen seharusnya mengarah untuk membuat efek yang tunggal dan unik. Sebuah cerpen yang baik punya ketunggalan pikiran dan aksi yang bisa disampaikan langsung dari baris awal hingga akhir. Ketiga, cerpen harus ketat dan padat. Cerpen harus berusaha memadatkan setiap uraian dan kata sepanjang tidak membunuh ide cerita. Keempat, cerpen harus nampak sungguhan. Nampak sungguhan adalah dasar dari seni mengisahkan cerita. Setiap fiksi harus nampak sungguhan meskipun semua orang tahu ia hanyalah rekaan. Setiap tokohnya harus benar-benar menjadi manusia yang benar-benar hidup. Kelima, cerpen harus memberikan kesan yang tuntas. Selesai membaca serpen, pembcanya harus menyakini bahwa cerita yang dibacanya benar-benar tuntas dan selesai, tidak ada lagi yang tersisa, benar-benar tamat.

 

Kenapa kita harus menulis cerpen? Banyak alasan kenapa kita harus menulis. Kita bisa mengajukan alasan teologis bahwa kita ingin ikut berdakwah melaui cerpen. Itu bagus. Atau alasan sosiologis, karena kita ingin terkenal melalui cerpen, karena dengan demikian kita bisa meningkatkan status sosial kita. Hal itu juga tidak salah. Boleh juga memakai alasan ekonomis, karena kita ingin memperolah suntikan modal lewat honor cerpen yang kita peroleh. Hal itu sah-sah saja, tidak melanggar HAM. Atau sebagai media aktualisasi potensi diri atau karena pacar kita menuntut untuk jadi cerpenis. Semua alasan tidak masalah, yang penting kita punya semangat yang kuat dan keinginan yang tangguh untuk menulis cerpen.

 

Dari mana memulai? Ibarat pengen jadi pendekar silat yang tangguh, maka sebelum itu kita harus melewati tahap-tahap mempelajari jurus-jurus silatnya. Gak ada orang lahir yang lantas menjadi pendekar pilih tanding. Semua melalui proses yang alamiah. Demikian juga cerpenis.

 

Banyak orang yang meyakini bahwa cara terbaik melatih insting menulis adalah melalui menulis buku harian. Dengan buku harian, kita bisa melatih menulis dan menyusun kalimat yang bagus setiap hari. Disana, kita tidak hanya belajar untuk mencata seluruh pegalaman dan pengetahuan kita. Tapi juga belajar bagaimana menggunakan perasaan kita.

 

Dari ranjang ke ranjang adalah bahan terbaik untuk menulis buku harian. Ambil yang terbaik, kemudian tulis juga dengan cara yang terbaik. Banyak orang yang akhirnya terkenal karena catatan buku hariannya. Ada Kartini dan Ahmad Wahib di Indonesia, Anne frank di Belandan dan Anton Chekov di Rusia. Semua memulai karyanya melaui buku harian.

 

Bisa juga melalui korespondensi. Di era komunikasi ini, korespondensi bukanlah hal yang sulit. Bisa melalui surat, telepon atau sms via hp. Tapi dalam kaitannya dengan menulis cerpen maka korespondensi ini harus melalui surat. Kita bisa belajar mengungkapkan perasaan dan apa yang ingin kita sampaikan pada orang lain melaui tulisan.

 

HB Jassin menulis surat untuk ribuan penyair Indonesia dan sekarang kita bisa beli kumpulan surat-suratnya di toko-toko buku besar. Surat-surat Rooselvelt kepada istrinya. Nehru kepada putrinya, Indira, termasuk kumpulan surat yang terlaris di dunia. Juga surat-surat Kahlil Gibran di Lebanon pada Maya Ziyadah yang berada di Mesir, kita masih bisa baca sampai sekarang. Maka tak salah jika ada orang yang berkata punya buku harian dan suka surat-menyurat adalah ciri utama seorang cendikiawan.

 

Atau bisa kita membaca cerpen sebanyak-banyak sampai kita merasa kenyang tanpa makan, terutama cerpen-cerpen yang telah dikategorikan berbobot atau berkualitas. Ibarat orang yang selalu melihat pendekar silat berlatih setiap hari, maka lama kelamaan dia akan jadi pendekar juga atau paling tidak hafal gerakan-gerakan silatnya. Demikian juga dengan cerpen.

 

Bisa juga kita memulai dari hobi meneliti dan berempati dengan nasib manusia. Mangapa orang selalu menjadi korban? Kenapa putra kyai selalu mudah menjadi dewan di Madura? Mengapa pengurus pesantren cendrung untuk beritindak semau gue? Dan lain sebagainya. Karena diyakini, hobi meneliti akan mempengaruhi kedalaman dan luasnya jangkauan karangan seseorang, seperti YB Mangunwijaya yang mendalami masyarakat Maluku dan pola maritim di sana sebelum menulis buku Ikan-ikan Hiu, Ido, Homa. Atau Umar Kayam yang menulis Para Priyayi setelah mengadakan berbagai penelitian dan dukungan perguruan tinggi di Amerika Serikat.

 

Dan dari hobi meneliti dan berempati inilah kita bisa menghasilkan berbagai macam tema dan ide untuk cerpen-cerpen yang akan kita tulis. Karena setiap manusia yang kita teliti dan mencoba untuk berempati kepadanya akan selalu akrab dengan permasalahan hidupnya. Tak salah kiranya jika banyak orang bilang, manusia dengan masalahnya berbanding lurus dengan tema cerpen yang bisa kita hasilkan. Bukankah ide terlalu gampang?

 

Lalu langkah apa yang harus kita lakukan waktu ingin nulis cerpen? Nih saya berikan tuntunan yang disampaikan oleh Frank Bernett untuk merencanakan sebuah cerita. Pertama, menghadapkan tokoh cerita dengan masalah untuk diselesaikan. Kedua, menciptakan penyelesaian yang logis dan dan memuaskan dari masalah tersebut. Ketiga, menulis penutup cerita. Hal ini pengitng untuk dilakukan agar kita benar-benar yakin bahwa cerita yang kan kita tulis benar-benar penting untuk dituliskan. Keempat, menulis satu atau dua paragraf  pembukaan dari cerpen. Kelima, susunlah plot yakni pengaturan adegan dan insiden bagaimana sang tokoh menyelesaikan masalahnya. Kan kita dah tahu awal dan akhirnya cerita.

 

Apa yang kita lakukan waktu memulai menulis cerpen? Tulislah cerpen kita dengan jujur, apa adanya. Segala yang ada dalam benak kita, tumpahkanlah semuanya dengan selengkap-lengkapnya sampai kita merasa bahwa cerpen kita sudah selesai. Setelah itu tinggalkan dulu. Kemudian ambil jarak dengan cerpen yang telah kita tulis. Baca lagi cerpen tersebut dengan posisi kita sebagai seorang kritikus cerpen atau redaktur dari sebuah penerbitan yang berhak mengedit, membuang, menambah bahkan merobek cerpen yang telah kita hasilkan. Dengan demikian kita akan bisa mengoreksi cerpen kita dengan obyektif. Koreksilah terus menerus sehingga kita bisa menemukan bentuk terbaik menurut kita.

 

Satu yang perlu kita ingat ketika sedang menulis, kita jangan berpikir bahwa apakah cerpen kita itu baik atau jelek, apakah dapat disukai pembaca atau malah dicampakkan, apakah bisa diterima penerbit atau dikembalikan. Yang harus kita pikirkan adalah bagaimana caranya agar kita bisa menyelesaikan cerpen itu dengan cepat dan menyampaikan ide secara tuntas.

 

Setelah selesai menulis, gimana? Berikan pada teman, guru, pacar, penerbit atau buku tuntunan menulis cerpen untuk menilainya. Dengarkan mereka bicara, perbaiki yang salah, tambahi yang kurang, kurangi yang lebih sehingga cerpen itu menjadi cantik dan semua orang merasa pantas dan ingin membacanya.

 

O y, ada yang lupa, kita harus selalu menambah pengetahuan tentang bahasa Indonesia yang baik dan benar karena itu merupakan salah satu syarat dasar agar kita bisa menulis cerpen dengan cantik. Key?

 

*Catcil ini disampaikan dalam acara Diklat Karya Tulis Fiksi yang dilaksanakan oleh Sanggar Andalas pada hari Jum’at, 22 Desember 2006 di Aula Diniyah PPA. Lubangsa Selatan Guluk-guluk Sumenep

**Penyaji adalah yang menulis catatan kecil ini

 

0 komentar:

Posting Komentar