SEKILAS TENTANG
CERPEN:
Yang Saya Baca,
Yang Saya Tahu, Yang Saya Alami*
Oleh: Mohamad
Johan**
Mohammad Diponegoro, seorang
cerpenis yang semasa hidupnya seminggu sekali membacakan karyanya di radio
Australia, mengungkapkan bahwa dunia cerpen ialah alam di dasar laut karang.
Makin dalam kita menyelam dengan minat tajam, makin asyik dan terpukau kita oleh
keindahan dan kekayaannya. Kita bisa tergulir untuk jatuh cinta dan akhirnya
membatalkan sama sekali niat untuk lari dari dunia cerpen.
Diponegoro seakan ingin berfatwa
bahwa dunia cerpen adalah dunia yang sangat indah dan menarik, siapapun berhak
untuk membuat dan menikmati keindahannya. Tak peduli apakah anda seorang
koruptor, politisi, petani, ataupun santri sebuah pesantren. Yang pasti, masih
kata Diponegoro, dunia cerpen menjanjikan kepuasan batin yang tiada
Sebelum kita belajar menulis
cerpen alangkah eloknya jika kita tahu, kiranya binatang apakah cerpen itu? Phyllis Duganne, seorang penulis Amerika,
mangatakan bahwa cerpen ialah susunan kalimat-kalimat yang merupakan cerita
yang mempunyai awal, bagian tengah dan akhir. Dan setiap cerpen punya tema
yakni inti cerita atau gagasan yang ingin disampaikan oleh cerita itu. Dan
sebagai seperti namanya, cerita yang pendek, cerpen adalah bentuk cerita yang
bisa tuntas dibaca dalam sekali duduk. Daerah lingkupnya kecil, dan karena itu
biasanya ceritanya terpusat pada satu tokoh atau satu masalah. Ceritanya sangat
kompak, tidak ada bagiannya yang hanta berfungsi sebagai embel-embel. Tiap
bagiannya, tiap kalimatnya, tiap katanya, tiap tanda bacanya, tidak ada yang
sia-sia. Semuanya memberi saham yang penting untuk menggerakkan jalan cerita,
atau mengungkapkan watak tokoh, atau melukiskan suasana. Tidak ada bagian yang
ompong, tidak ada yang kelebihan.
Karena itu menulis cerpen
merupakan cara menulis yang paling selektif dan paling ekonomis. Menulis cerpen
adalah menceritakan detail yang ingin kita sampaikan bukan memperlihatkannya.
Oleh karena itu ada baiknya kita tengok
Kenapa kita harus menulis cerpen?
Banyak alasan kenapa kita harus menulis. Kita bisa mengajukan alasan teologis
bahwa kita ingin ikut berdakwah melaui cerpen. Itu bagus. Atau alasan
sosiologis, karena kita ingin terkenal melalui cerpen, karena dengan demikian
kita bisa meningkatkan status sosial kita. Hal itu juga tidak salah. Boleh juga
memakai alasan ekonomis, karena kita ingin memperolah suntikan modal lewat
honor cerpen yang kita peroleh. Hal itu sah-sah saja, tidak melanggar HAM. Atau
sebagai media aktualisasi potensi diri atau karena pacar kita menuntut untuk
jadi cerpenis. Semua alasan tidak masalah, yang penting kita punya semangat yang
kuat dan keinginan yang tangguh untuk menulis cerpen.
Dari mana memulai? Ibarat pengen
jadi pendekar silat yang tangguh, maka sebelum itu kita harus melewati
tahap-tahap mempelajari jurus-jurus silatnya. Gak ada orang lahir yang lantas
menjadi pendekar pilih tanding. Semua melalui proses yang alamiah. Demikian
juga cerpenis.
Banyak orang yang meyakini bahwa
cara terbaik melatih insting menulis adalah melalui menulis buku harian. Dengan
buku harian, kita bisa melatih menulis dan menyusun kalimat yang bagus setiap
hari. Disana, kita tidak hanya belajar untuk mencata seluruh pegalaman dan
pengetahuan kita. Tapi juga belajar bagaimana menggunakan perasaan kita.
Dari ranjang ke ranjang adalah
bahan terbaik untuk menulis buku harian. Ambil yang terbaik, kemudian tulis
juga dengan cara yang terbaik. Banyak orang yang akhirnya terkenal karena
catatan buku hariannya. Ada Kartini dan Ahmad Wahib di Indonesia, Anne frank di
Belandan dan Anton Chekov di Rusia. Semua memulai karyanya melaui buku harian.
Bisa juga melalui korespondensi.
Di era komunikasi ini, korespondensi bukanlah hal yang sulit. Bisa melalui
HB Jassin menulis surat untuk
ribuan penyair Indonesia dan sekarang kita bisa beli kumpulan surat-suratnya di
toko-toko buku besar. Surat-surat Rooselvelt kepada istrinya. Nehru kepada putrinya,
Indira, termasuk kumpulan
Atau bisa kita membaca cerpen
sebanyak-banyak sampai kita merasa kenyang tanpa makan, terutama cerpen-cerpen
yang telah dikategorikan berbobot atau berkualitas. Ibarat orang yang selalu
melihat pendekar silat berlatih setiap hari, maka lama kelamaan dia akan jadi
pendekar juga atau paling tidak hafal gerakan-gerakan silatnya. Demikian juga
dengan cerpen.
Bisa juga kita memulai dari hobi
meneliti dan berempati dengan nasib manusia. Mangapa orang selalu menjadi
korban? Kenapa putra kyai selalu mudah menjadi dewan di Madura? Mengapa
pengurus pesantren cendrung untuk beritindak semau gue? Dan lain sebagainya.
Karena diyakini, hobi meneliti akan mempengaruhi kedalaman dan luasnya
jangkauan karangan seseorang, seperti YB Mangunwijaya yang mendalami masyarakat
Maluku dan pola maritim di
Dan dari hobi meneliti dan
berempati inilah kita bisa menghasilkan berbagai macam tema dan ide untuk
cerpen-cerpen yang akan kita tulis. Karena setiap manusia yang kita teliti dan
mencoba untuk berempati kepadanya akan selalu akrab dengan permasalahan
hidupnya. Tak salah kiranya jika banyak orang bilang, manusia dengan masalahnya
berbanding lurus dengan tema cerpen yang bisa kita hasilkan. Bukankah ide
terlalu gampang?
Lalu langkah apa yang harus kita
lakukan waktu ingin nulis cerpen? Nih saya berikan tuntunan yang disampaikan
oleh Frank Bernett untuk merencanakan sebuah cerita. Pertama,
menghadapkan tokoh cerita dengan masalah untuk diselesaikan. Kedua,
menciptakan penyelesaian yang logis dan dan memuaskan dari masalah tersebut. Ketiga,
menulis penutup cerita. Hal ini pengitng untuk dilakukan agar kita benar-benar
yakin bahwa cerita yang
Apa yang kita lakukan waktu
memulai menulis cerpen? Tulislah cerpen kita dengan jujur, apa adanya. Segala
yang ada dalam benak kita, tumpahkanlah semuanya dengan selengkap-lengkapnya
sampai kita merasa bahwa cerpen kita sudah selesai. Setelah itu tinggalkan
dulu. Kemudian ambil jarak dengan cerpen yang telah kita tulis. Baca lagi
cerpen tersebut dengan posisi kita sebagai seorang kritikus cerpen atau
redaktur dari sebuah penerbitan yang berhak mengedit, membuang, menambah bahkan
merobek cerpen yang telah kita hasilkan. Dengan demikian kita akan bisa
mengoreksi cerpen kita dengan obyektif. Koreksilah terus menerus sehingga kita
bisa menemukan bentuk terbaik menurut kita.
Satu yang perlu kita ingat ketika
sedang menulis, kita jangan berpikir bahwa apakah cerpen kita itu baik atau
jelek, apakah dapat disukai pembaca atau malah dicampakkan, apakah bisa
diterima penerbit atau dikembalikan. Yang harus kita pikirkan adalah bagaimana
caranya agar kita bisa menyelesaikan cerpen itu dengan cepat dan menyampaikan
ide secara tuntas.
Setelah selesai menulis, gimana?
Berikan pada teman, guru, pacar, penerbit atau buku tuntunan menulis cerpen
untuk menilainya. Dengarkan mereka bicara, perbaiki yang salah, tambahi yang
kurang, kurangi yang lebih sehingga cerpen itu menjadi cantik dan semua orang
merasa pantas dan ingin membacanya.
O y, ada yang lupa, kita harus
selalu menambah pengetahuan tentang bahasa Indonesia yang baik dan benar karena
itu merupakan salah satu syarat dasar agar kita bisa menulis cerpen dengan
cantik. Key?
*Catcil ini disampaikan dalam acara Diklat Karya Tulis
Fiksi yang dilaksanakan oleh Sanggar Andalas pada hari Jum’at, 22 Desember 2006
di Aula Diniyah PPA. Lubangsa Selatan Guluk-guluk Sumenep
**Penyaji adalah yang menulis catatan kecil ini

0 komentar:
Posting Komentar