Senyum
Di Pucuk Talas
Oleh: Mohamad Johan
*****
Kuseret langkahku ke mushalla depan
posko. Rapat. Ini pasti menjadi waktu yang sangat membosankan. Dengan putri
lagi.
Rapat tentang pelaksanaan program
ini berjalan dengan sangat lambat sekali. Berulang pendapat ditabrak oleh
pendapat yang lain, sampai belur tak tersisa. Sementara aku hanya menikmati
lamunan yang telah merangkai sejuta cerita tentang matahari yang selalu
gerhana.
*****
Air gemericik tersenyum di sela
batu-batu. Sebingkai daun jambu yang jatuh memeluk riak berjalan di sela kebeningan
semesta. Aku melebur bersama teman-teman ke dalam pelukan kali yang begitu
jernih di belakang posko yang meliuk dengan begitu eksotik ke arah selatan, ke
arah posko putri.
“Kita kirim cerita ke posko putri
melalui air ini yuk?” ajak Miftah sambil kembali memantulkan kebeningan Selat
Bali[1] ke
sela-sela relung terdalam batin kami.
“Ah, buat apa, toh sumber cerita tu
di putri.” Ahel menyeruak dengan bahasa melati, putih tapi sakral.
“Tapi paling tidak, kebersamaan tu
harus milik kita, putra putri, karena keputraan dan keputrian tu hanya berdasarkan
jenis, bukan pada wilayah pikiran dan kehendak kita.” Begitulah jika Pak Ketua
telah menghantam kesadaran kosmis kita tentang kelelakian dan keperempuanan.
“Sip!” Habibi memuaskan dahaga
kejujurannya pada acungan jempol kesetujuan, kesepakatan, kebersamaan dan
kebertanggungjawaban.
*****
Rapat lagi. Dengan Putri.
Terpaksa aku sangsangkan kantuk yang
memelukku ke atas gemawan, menemani para dewa. Kuseret anganku ke mushalla
dengan tertatih. Ada keburaman, ada kegersangan, ada kegamangan. Mungkin juga
kemuakan.
*****
“Kalau yang dibalut baju merah tu
begini…”
“Yang berselendangkan kuning
lembayung tu begitu…”
“Yang itu begini yang ini begitu…”
Aku tutup telingaku dengan teriak.
Kawan-kawan mulai nembang tentang kisah Mahabrata dan Ramayana, dua cerita
tentang Hati. Padahal, aku kira lukisan putri hanya mitos tentang sebuah
kecantikan pada pertemuan pandang pertama yang biasanya nisbi.
Tapi begitulah, lambai nyiur hanya
selalu melepas keelokan bidadari dan senyum bidadari senantiasa memesonakan para
raja. Para pria itu masih saja menghitung angka tentang kecantikan,
kemurahsenyuman bahkan kekurangajaran.
*****
Kembali aku ke dalam rengkuhan Selat
Bali, kembali aku disuguhi tarian Putri Duyung[2]
tentang kebinalan kilat mata dan keeksotikan tubuh Dewi Padma. Ah, matahari
yang masih memanjang ke ufuk pagi tak terasa membakar di kulitku.
Kawan-kawan membelakangiku dan
melukis gairah di balik rerumputan. Merangkai kenikmatan senja yang di balut
putih bianglala. Tak pernah berakhir walau sebenarnya telah sangat purba.
Kecantikan Sang Putri memang telah menjadi oase kelelakian sejak kala.
****
Lagi-lagi rapat, dengan putri lagi.
Kalau tidak karena rasa tanggung
jawab dan hormatku pada pimpinan sebagaimana yang telah dititahkan Bunda, tentu
aku lebih memilih menuai angin di pucuk-pucuk sawo depan posko sembari nikmati
seliut senja di dalam ayunan surya.
Tapi…
Senyum siapakah gerangan yang
dipancangkan malaikat sore ini di dekat pintu mushalla? Apakah ini dihadirkan
untuk mengusir kematianku? Bukankah senyum itu baru hadir hari ini? Senyum yang
jujur, senyum yang ikhlas, senyum yang sederhana. Sopan tapi artistik, teduh
tapi meyakinkan. Senyum yang hanya milik khas para putri.
Ah, senyum. Lagu apa lagi yang
didendangkan Tuhan untukku saat ini? Keberkahan atau kehitamlegaman? Aku mesti
bertanya pada rumput yang bergoyang.[3]
Tapi kapan?
Rapat bubar, aku masih bertanya
tentang senyum.
*****
“Bos, ikut aku!”
Habibi menyorong pada kegamangan. Ke posko putri? Hendak apa? Tapi
tolakan ajakan sahabat adalah ketidakjujuran. Aku naiki saja sepedaku, melaju
dengan lambai ke arah timur.
Di depan gerbang pesantren itu, kami berhenti pada ujung sebuah jalan
setapak. Di belakangku, dua orang kawan putri mematrikan keakraban pada puncak
menara.
“Mau kemana?” Sang Ketua putri menyapa.
“Aku dapatkan sms dari nomor cantik tentang program kita, nomor siapa
ya?” Aku sodorkan hpku pada wajahnya.
Tapi senyum itu malah mengembang di dekat sang ketua, “Tu nomor saya.”
Aduhai, bukankah senyum itu yang kemarin hampir memenggalku pada puncak
harap? Kanapa aku baru sadar? Apa yang telah melenakanku bahwa di dekatku telah
bertahta seorang bidadari?
*****
Episode selanjutnya adalah tutur kasmaran dan kegamangan. Serat tentang
nafsu dan hati nurani. Tentang cinta dan dusta. Tentang kesetiaan dan
pengkhianatan.
Sms demi sms mengalir tanpa dosa, mengikuti riak bening Selat Bali,
bersama ujung-ujung keaslian sebuah hati. Memuja dengan jujur, bertanya dengan
selalu, menjawab dengan pasti.
Senyum itu senantiasa mengembang di puncak kemarau.
*****
Aku biarkan kelopak bunga itu mekar sesuka hati, liar, kadang tak
terkendali. Mengendalikan ombak, memuncakkan harap di ujung gelisah. Tapi
bukankah bahtera hanya mengikuti arah angin, kemana hendak berlayar ketika sauh
sudah dilepas?
*****
Kantuk menghantamku dengan bernas padahal malam masih perawan. Tak ada
alasan lagi, aku memang harus terlelap. Walau sekejap.
Tiba-tiba aku berada di alam yang begitu asing, yang mistis. Arah tak ada
lagi, apalagi hari. Semua lapang. Semua sirna. Aku berjalan entah kemana,
karena tempat dan waktu sedemikian nisbi dan absurd.
Seketika lelah berjalan, aku terantuk sebongkah benda. Ohoy dia jasadku
sendiri.
“Mengapa kamu disini?” Ramah kuberujar.
“Aku menantimu!” Hantamnya telak.
“Kenapa?” Aku pasrah.
“Apa yang terjadi dengan hatimu sekarang?” tohoknya.
“Hatiku tetap putih, bersih!”
“Tidak, tapi ada sedikit noda!”
“Warnanya?”
“Merah mawar!”
“Warna cinta?”
“Iya” singkat sekali.
Aku tertunduk. Memandangi hatiku yang dalam mataku tetap saja putih.
Ah, apakah mataku telah buta warna sehingga tak mengenali lagi bintik
merah mawar yang menodai hatiku?
Aku yakin tidak!
Tapi jasadku tetap menyorongkan matanya pada hatiku. Aku kikuk.
“Mengakulah!” desaknya.
“Kamu salah melihat noda itu di hatiku. Ia mungkin ada di hati orang
lain!” elakku
“Apakah senyum itu tidak cantik?”
“Cantik”
“Apakah senyum itu tidak layak dikagumi?”
“Layak, bahkan sangat layak!” aku terengah dihempas pertanyaan jasadku
sendiri.
“Apakah kamu mencintai senyum?”
“Lho siapa yang tidak suka senyum?”
“Apakah kamu mencintai orang yang punya senyum itu?”
Aku terkatup. Jiwaku berada di desah yang tertahan di dada. Apakah aku
harus menjawab pertanyaan yang aku sendiri tidak tahu jawabannya?
“Kamu pasti bisa menjawabnya!” jasadku seakan tahu apa yang aku pikirkan.
Aku tetap diam. Tak mampu menjawab.
Mata jasadku melotot menorehku!
Aku berpaling.
*****
Aku bergegas menggenggam hp begitu ada sms menyapa, “Panjennengan
ampon ngakungi raji, Bang…” [4]
Aku terpasung, tertegun. Kenapa senyum sms laksana itu. Sakit.
Aku untai juga sms.
Sms yang pertama: “Lho, Dinda menganggap sikapku selama ini
bagaimana?apakah ada kata-kataku yang lebih dari sekedar saudara?”
Sms yang kedua: “Apakah salah jika seorang saudara bertanya keadaan
saudarinya? Apakah tidak benar jika seorang abang memperhatikan dindanya? Bukankah sebuah
kewajiban seorang sahabat mendoakan sahabatinya?”
Sms yang ketiga: “Kemudian apakah keliru seorang Abang mengharapkan
doa kebaikan dari dindanya? Bukankah banyak kawan akan lebih baik dari banyak
musuh?”
Sms yang keempat: “Dinda, kesadaran bersaudara bagiku sekarang lebih
penting dari kepentingan asmara karena aku tak ingin terpuruk untuk yang kedua
kali, pengalaman adalah guru yang selalu berharga.”
Sms yang kelima: “Kagum pada pandangan pertama itu lumrah, tapi yang
bicara kemudian lalu akal sehat dan hati nurani. Bukankah tidak setiap yang
kita inginkan mesti terjadi seperti terlalu banyak hal yang kita tak inginkan
justru terjadi?”
Sms yang keenam: “Kalau dinda merasa smsku selama ini begitu mesra,
penuh perhatian dan melankolis, karena menurutku memang seperti itulah
menurutku seorang laki-laki mesti memperlakukan perempuan.”
Sms ketujuh: “Ada yang ingin dinda tanyakan lagi?”
Sms senyum yang kedua: “Saompamana kaula deddhi istrinya ajunan kaule
paggun cemburu. Toreh kadhiye malema ka’dissah bakto sampean se maki Kodak?”[5]
Sms kedelapan dan kesembilan: “Dinda, aku jawab dari dua segi ya,
pertama, kecemburuan itu tak harus ditakuti selama kita tak pernah merasa
berkhianat. Kedua, kejadiaan itu merupakan pencair dari kekakuan sikap
persahabatan, kecuali Dinda merasa terhina dengan kejadian tersebut tentu aku
minta maaf (Abang yakin dinda akan maafin abang). Aku tak ingin kemesraan
persahabatan dan persaudaraan kita ternodai…”
*****
Seandainya perpisahan bukan milik orang yang bertemu, tentu aku tak ingin
malam lepas kenang ini terlaksana. Tapi, kodrat memang berjalan tanpa henti,
tanpa sela, tanpa nyawa. Semuanya dilibas hingga tuntas. Panggung tangis itu
telah berdiri.
Kemana senyum itu? Kenapa harapku tak jua temukan kenyataan. Begitu lelah
aku berharap, senyum ungu menghampar dengan kaca mata eksotiknya. Bukankah
sekarang bukan waktu yang tepat untuk melukis? Aku tetap rapikan panggung
perpisahan itu dengan hati bercucuran kristal maja[6].
“Tolong ambil gambar senyum!” harapku pada sekretarisku.
Gambar senyum sangat aku damba, sebagai sebuah tanda, bahwa di suatu
waktu dan tempat aku pernah dipertemukan Tuhan dengan senyum.
“Senyum tak mau, Bos!”
Kalimat pendek itu menusukku dalam-dalam, mengkaparkanku pada harap yang
tak sempurna.
*****
Kurangkai nomor senyum dengan perlahan, hingga tuntas di ujung gelisah.
Suara lembut di sebrang itu menyapaku. Aku terkapar lagi, kali ini karena
aku tak kuat menahan jiwaku sendiri.
“Dinda, seandainya keadaan kita tidak seperti sekarang, apakah mungkin
cerita yang kita tulis ini akan berbeda?”
Senyum diam. Tak menjawab.
[1] Selat
Bali adalah sebutan yang diberikan oleh anak-anak posko putra bagi sungai yang
melintas di belakang lembaga pendidikan Nurul Yaqin Lembung Barat Lenteng
Sumenep karena banyak dijumpai orang-orang desa mandi tanpa balutan kain
sehelaipun
[2]
Julukan yang diberikan oleh kawan-kawan KKN tuk para gadis yang selalu mandi di
Selat Bali
[3]
Salah satu penggalan lagu Ebiet G. Adi berjudul Elegi Esok Pagi
[4] Bahasa
Madura yang artinya: Anda sudah punya istri, Bang…
[5] Bahasa
Madura artinya: “Kalau saya jadi istrinya Abang pasti saya cemburu, seperti
tadi malam waktu abang menyerahkan tustel?”
[6] Maja
adalah sejenis buah yang dagingnya manis tapi mengandung getah yang sangat
pahit

0 komentar:
Posting Komentar