Rabu, 25 Januari 2023

Senyum Di Pucuk Talas

 

Senyum Di Pucuk Talas

Oleh: Mohamad Johan

             Ini semua cerita tentang purnama yang selalu mengintip di ambang langit. Apakah aku masih pantas melukis senyumnya? Bukankah semua air mesti bermuara, sebagaimana pagi yang selalu berganti, sebagaimana hati yang tak pernah ingkar diri.

*****

            Kuseret langkahku ke mushalla depan posko. Rapat. Ini pasti menjadi waktu yang sangat membosankan. Dengan putri lagi.

            Rapat tentang pelaksanaan program ini berjalan dengan sangat lambat sekali. Berulang pendapat ditabrak oleh pendapat yang lain, sampai belur tak tersisa. Sementara aku hanya menikmati lamunan yang telah merangkai sejuta cerita tentang matahari yang selalu gerhana.

*****

            Air gemericik tersenyum di sela batu-batu. Sebingkai daun jambu yang jatuh memeluk riak berjalan di sela kebeningan semesta. Aku melebur bersama teman-teman ke dalam pelukan kali yang begitu jernih di belakang posko yang meliuk dengan begitu eksotik ke arah selatan, ke arah posko putri.

            “Kita kirim cerita ke posko putri melalui air ini yuk?” ajak Miftah sambil kembali memantulkan kebeningan Selat Bali[1] ke sela-sela relung terdalam batin kami.

            “Ah, buat apa, toh sumber cerita tu di putri.” Ahel menyeruak dengan bahasa melati, putih tapi sakral.

            “Tapi paling tidak, kebersamaan tu harus milik kita, putra putri, karena keputraan dan keputrian tu hanya berdasarkan jenis, bukan pada wilayah pikiran dan kehendak kita.” Begitulah jika Pak Ketua telah menghantam kesadaran kosmis kita tentang kelelakian dan keperempuanan.

            “Sip!” Habibi memuaskan dahaga kejujurannya pada acungan jempol kesetujuan, kesepakatan, kebersamaan dan kebertanggungjawaban.

*****

            Rapat lagi. Dengan Putri.

            Terpaksa aku sangsangkan kantuk yang memelukku ke atas gemawan, menemani para dewa. Kuseret anganku ke mushalla dengan tertatih. Ada keburaman, ada kegersangan, ada kegamangan. Mungkin juga kemuakan.

*****

            “Kalau yang dibalut baju merah tu begini…”

            “Yang berselendangkan kuning lembayung tu begitu…”

            “Yang itu begini yang ini begitu…”

            Aku tutup telingaku dengan teriak. Kawan-kawan mulai nembang tentang kisah Mahabrata dan Ramayana, dua cerita tentang Hati. Padahal, aku kira lukisan putri hanya mitos tentang sebuah kecantikan pada pertemuan pandang pertama yang biasanya nisbi.

            Tapi begitulah, lambai nyiur hanya selalu melepas keelokan bidadari dan senyum bidadari senantiasa memesonakan para raja. Para pria itu masih saja menghitung angka tentang kecantikan, kemurahsenyuman bahkan kekurangajaran.

*****

            Kembali aku ke dalam rengkuhan Selat Bali, kembali aku disuguhi tarian Putri Duyung[2] tentang kebinalan kilat mata dan keeksotikan tubuh Dewi Padma. Ah, matahari yang masih memanjang ke ufuk pagi tak terasa membakar di kulitku.

            Kawan-kawan membelakangiku dan melukis gairah di balik rerumputan. Merangkai kenikmatan senja yang di balut putih bianglala. Tak pernah berakhir walau sebenarnya telah sangat purba. Kecantikan Sang Putri memang telah menjadi oase kelelakian sejak kala.

****

            Lagi-lagi rapat, dengan putri lagi.

            Kalau tidak karena rasa tanggung jawab dan hormatku pada pimpinan sebagaimana yang telah dititahkan Bunda, tentu aku lebih memilih menuai angin di pucuk-pucuk sawo depan posko sembari nikmati seliut senja di dalam ayunan surya.

            Tapi…

            Senyum siapakah gerangan yang dipancangkan malaikat sore ini di dekat pintu mushalla? Apakah ini dihadirkan untuk mengusir kematianku? Bukankah senyum itu baru hadir hari ini? Senyum yang jujur, senyum yang ikhlas, senyum yang sederhana. Sopan tapi artistik, teduh tapi meyakinkan. Senyum yang hanya milik khas para putri.

            Ah, senyum. Lagu apa lagi yang didendangkan Tuhan untukku saat ini? Keberkahan atau kehitamlegaman? Aku mesti bertanya pada rumput yang bergoyang.[3] Tapi kapan?

            Rapat bubar, aku masih bertanya tentang senyum.

*****

“Bos, ikut aku!”

Habibi menyorong pada kegamangan. Ke posko putri? Hendak apa? Tapi tolakan ajakan sahabat adalah ketidakjujuran. Aku naiki saja sepedaku, melaju dengan lambai ke arah timur.

Di depan gerbang pesantren itu, kami berhenti pada ujung sebuah jalan setapak. Di belakangku, dua orang kawan putri mematrikan keakraban pada puncak menara.

“Mau kemana?” Sang Ketua putri menyapa.

“Aku dapatkan sms dari nomor cantik tentang program kita, nomor siapa ya?” Aku sodorkan hpku pada wajahnya.

Tapi senyum itu malah mengembang di dekat sang ketua, “Tu nomor saya.”

Aduhai, bukankah senyum itu yang kemarin hampir memenggalku pada puncak harap? Kanapa aku baru sadar? Apa yang telah melenakanku bahwa di dekatku telah bertahta seorang bidadari?

*****

Episode selanjutnya adalah tutur kasmaran dan kegamangan. Serat tentang nafsu dan hati nurani. Tentang cinta dan dusta. Tentang kesetiaan dan pengkhianatan.

Sms demi sms mengalir tanpa dosa, mengikuti riak bening Selat Bali, bersama ujung-ujung keaslian sebuah hati. Memuja dengan jujur, bertanya dengan selalu, menjawab dengan pasti.

Senyum itu senantiasa mengembang di puncak kemarau.

*****

Aku biarkan kelopak bunga itu mekar sesuka hati, liar, kadang tak terkendali. Mengendalikan ombak, memuncakkan harap di ujung gelisah. Tapi bukankah bahtera hanya mengikuti arah angin, kemana hendak berlayar ketika sauh sudah dilepas?

*****

Kantuk menghantamku dengan bernas padahal malam masih perawan. Tak ada alasan lagi, aku memang harus terlelap. Walau sekejap.

Tiba-tiba aku berada di alam yang begitu asing, yang mistis. Arah tak ada lagi, apalagi hari. Semua lapang. Semua sirna. Aku berjalan entah kemana, karena tempat dan waktu sedemikian nisbi dan absurd.

Seketika lelah berjalan, aku terantuk sebongkah benda. Ohoy dia jasadku sendiri.

“Mengapa kamu disini?” Ramah kuberujar.

“Aku menantimu!” Hantamnya telak.

“Kenapa?” Aku pasrah.

“Apa yang terjadi dengan hatimu sekarang?” tohoknya.

“Hatiku tetap putih, bersih!”

“Tidak, tapi ada sedikit noda!”

“Warnanya?”

“Merah mawar!”

“Warna cinta?”

“Iya” singkat sekali.

Aku tertunduk. Memandangi hatiku yang dalam mataku tetap saja putih.

Ah, apakah mataku telah buta warna sehingga tak mengenali lagi bintik merah mawar yang menodai hatiku?

Aku yakin tidak!

Tapi jasadku tetap menyorongkan matanya pada hatiku. Aku kikuk.

“Mengakulah!” desaknya.

“Kamu salah melihat noda itu di hatiku. Ia mungkin ada di hati orang lain!” elakku

“Apakah senyum itu tidak cantik?”

“Cantik”

“Apakah senyum itu tidak layak dikagumi?”

“Layak, bahkan sangat layak!” aku terengah dihempas pertanyaan jasadku sendiri.

“Apakah kamu mencintai senyum?”

“Lho siapa yang tidak suka senyum?”

“Apakah kamu mencintai orang yang punya senyum itu?”

Aku terkatup. Jiwaku berada di desah yang tertahan di dada. Apakah aku harus menjawab pertanyaan yang aku sendiri tidak tahu jawabannya?

“Kamu pasti bisa menjawabnya!” jasadku seakan tahu apa yang aku pikirkan.

Aku tetap diam. Tak mampu menjawab.

Mata jasadku melotot menorehku!

Aku berpaling.

*****

Aku bergegas menggenggam hp begitu ada sms menyapa, “Panjennengan ampon ngakungi raji, Bang…” [4]

Aku terpasung, tertegun. Kenapa senyum sms laksana itu. Sakit.

Aku untai juga sms.

Sms yang pertama: “Lho, Dinda menganggap sikapku selama ini bagaimana?apakah ada kata-kataku yang lebih dari sekedar saudara?”

Sms yang kedua: “Apakah salah jika seorang saudara bertanya keadaan saudarinya? Apakah tidak benar jika seorang abang  memperhatikan dindanya? Bukankah sebuah kewajiban seorang sahabat mendoakan sahabatinya?”

Sms yang ketiga: “Kemudian apakah keliru seorang Abang mengharapkan doa kebaikan dari dindanya? Bukankah banyak kawan akan lebih baik dari banyak musuh?”

Sms yang keempat: “Dinda, kesadaran bersaudara bagiku sekarang lebih penting dari kepentingan asmara karena aku tak ingin terpuruk untuk yang kedua kali, pengalaman adalah guru yang selalu berharga.”

Sms yang kelima: “Kagum pada pandangan pertama itu lumrah, tapi yang bicara kemudian lalu akal sehat dan hati nurani. Bukankah tidak setiap yang kita inginkan mesti terjadi seperti terlalu banyak hal yang kita tak inginkan justru terjadi?”

Sms yang keenam: “Kalau dinda merasa smsku selama ini begitu mesra, penuh perhatian dan melankolis, karena menurutku memang seperti itulah menurutku seorang laki-laki mesti memperlakukan perempuan.”

Sms ketujuh: “Ada yang ingin dinda tanyakan lagi?”

Sms senyum yang kedua: “Saompamana kaula deddhi istrinya ajunan kaule paggun cemburu. Toreh kadhiye malema ka’dissah bakto sampean se maki Kodak?”[5]

Sms kedelapan dan kesembilan: “Dinda, aku jawab dari dua segi ya, pertama, kecemburuan itu tak harus ditakuti selama kita tak pernah merasa berkhianat. Kedua, kejadiaan itu merupakan pencair dari kekakuan sikap persahabatan, kecuali Dinda merasa terhina dengan kejadian tersebut tentu aku minta maaf (Abang yakin dinda akan maafin abang). Aku tak ingin kemesraan persahabatan dan persaudaraan kita ternodai…”

*****

Seandainya perpisahan bukan milik orang yang bertemu, tentu aku tak ingin malam lepas kenang ini terlaksana. Tapi, kodrat memang berjalan tanpa henti, tanpa sela, tanpa nyawa. Semuanya dilibas hingga tuntas. Panggung tangis itu telah berdiri.

Kemana senyum itu? Kenapa harapku tak jua temukan kenyataan. Begitu lelah aku berharap, senyum ungu menghampar dengan kaca mata eksotiknya. Bukankah sekarang bukan waktu yang tepat untuk melukis? Aku tetap rapikan panggung perpisahan itu dengan hati bercucuran kristal maja[6].

“Tolong ambil gambar senyum!” harapku pada sekretarisku.

Gambar senyum sangat aku damba, sebagai sebuah tanda, bahwa di suatu waktu dan tempat aku pernah dipertemukan Tuhan dengan senyum.

“Senyum tak mau, Bos!”

Kalimat pendek itu menusukku dalam-dalam, mengkaparkanku pada harap yang tak sempurna.

*****

Kurangkai nomor senyum dengan perlahan, hingga tuntas di ujung gelisah.

Suara lembut di sebrang itu menyapaku. Aku terkapar lagi, kali ini karena aku tak kuat menahan jiwaku sendiri.

“Dinda, seandainya keadaan kita tidak seperti sekarang, apakah mungkin cerita yang kita tulis ini akan berbeda?”

Senyum diam. Tak menjawab.

 

 

Lembung Barat, Kamis, 23 Agustus 2007 jam 1.45


[1] Selat Bali adalah sebutan yang diberikan oleh anak-anak posko putra bagi sungai yang melintas di belakang lembaga pendidikan Nurul Yaqin Lembung Barat Lenteng Sumenep karena banyak dijumpai orang-orang desa mandi tanpa balutan kain sehelaipun

[2] Julukan yang diberikan oleh kawan-kawan KKN tuk para gadis yang selalu mandi di Selat Bali

[3] Salah satu penggalan lagu Ebiet G. Adi berjudul Elegi Esok Pagi

[4] Bahasa Madura yang artinya: Anda sudah punya istri, Bang…

[5] Bahasa Madura artinya: “Kalau saya jadi istrinya Abang pasti saya cemburu, seperti tadi malam waktu abang menyerahkan tustel?”

[6] Maja adalah sejenis buah yang dagingnya manis tapi mengandung getah yang sangat pahit



0 komentar:

Posting Komentar